Andai Jokowi Gubernur DKI

Saya tertarik ikut menyimak sepak terjang Jokowi karena pernah bersua dan duduk berseberangan dengan beliau di Lemhanas tahun lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2011 pada acara Round Table Discussion yang bertajuk: “Implementasi Sistem Manajemen Nasional dalam Era Otonomi Daerah dalam rangka Penguatan Hubungan Pusat dan Daerah dalam Rangka Penguatan Hubungan Pusat dan Daerah untuk Percepatan Pembangunan Nasional”. Saat itu beliau menjadi salah satu pembahas materi dari empat orang narasumber.

Beliau pun tidak ragu berbagi pengalaman dan cerita sukses kepada para birokrat dan kepala daerah yang hadir saat itu. Berbagai tips dan trik ala Jokowi pun menuai decak kagum. Pertanyaannya, apakah kesuksesan membangun kota Solo akan terulang jika Jokowi akhirnya didaulat menjadi orang nomor satu di DKI?

Saya mencoba untuk menyimak satu per satu berbagai jurus Jokowi kala memimpin Solo. Sekali lagi, ini hanya berandai-andai saja berdasarkan tanggapan beliau saat membahas carut-marut implementasi otonomi daerah. Mungkin saja saat itu Jokowi tidak mengeluarkan semua jurusnya. Namun seingat saya, ada tiga prinsip yang mendasari cara dan gaya kepemimpinannya yang dianggap menjadi kunci suksesnya. Jurus-jurus tersebut diasumsikan akan diterapkan di ibukota oleh Sang Walikota fenomenal.

Pertama, Jokowi memang cenderung berpikir out of the box, atau di luar pola kepemimpinan politik para penguasa di daerah. Tidak heran banyak orang terkaget-kaget dengan cara dan gayanya sebagai walikota. Perubahan pola pikir birokrat pun menjadi perhatian utamanya dalam memberikan layanan ke publik. Jokowi tidak meragukan kemampuan dan pendidikan SDM di pemda, karena menurutnya, rata-rata SDM sudah bergelar sarjana, bahkan master dan doktor pun ada. Menurut Jokowi, prioritas pertamanya adalah pengembangan SDM yang dikaitkan dengan perubahan pola pikir dan prilaku pegawai pemda dalam melayani masyarakat.

Tantangan Jokowi adalah bisakah merubah pola pikir pegawai pemda DKI agar bisa lebih mengedepankan mutu layanan publik. Bisakah Jokowi merubah prilaku satpol PP dalam menangani Pedagang Laki Lima (PKL) di Jakarta? Saat di Solo, berpuluh-puluh kali Jokowi mengundang PKL ke pendopo pemda untuk berbicara dari hati ke hati sembari makan malam bersama. Pendekatannya pun berhasil ketika PKL berduyun-duyun sukarela berpindah tempat diiringi pasukan keraton solo.

Jika pendekatan yang sama dilakukannya di Jakarta, sudikah PKL seluruh Jakarta memenuhi undangannya? Jika iya, pendopo kantor gubernur tak kan cukup menampung mereka. Soal apakah aspirasi mereka tertampung juga, Jokowi adalah jagonya, setidaknya berdasarkan contoh di Solo. Memang sulit membayangkan PKL ibukota diiringi ondel-ondel berpindah ke lokasi yang sesuai peruntukkannya. Namun bukan sesuatu yang mustahil juga jika PKL bisa ditertibkan tanpa harus mengundang makan malam atau diiringi karnaval.

Bisa dipastikan selalu ada resistensi terhadap upaya merubah pola piker. Aparat pemda mungkin enggan beranjak dari zona nyaman. Hal ini bisa menjadi ujian kepemimpinan Jokowi nanti. Dia berpendapat bahwa perubahan pola pikir aparat pemda tergantung kepemimpinan dan keteladanan. Soal ini Jokowi jagonya, termasuk punya cara merubah pola pikir bawahannya yang akhirnya bisa dengan penuh senyum melayani pengurusan KTP dan izin usaha yang bisa dipercepat dengan biaya murah pula.

Tindakannya yang mengaggap PKL sebagai investor lokal strategis yang bisa menyumbang pendapatan asli daerah dibanding mall-mall menjadi contoh lain cara berpikir yang mungkin dianggap “nyleneh”. Namun, apakah cara tersebut bisa membendung mall-mall atau jaringan retail modern di Jakarta yang semakin menyingkirkan toko atau warung kecil milik warga kecil dan pasar tradisional? Sudah pasti Jokowi harus siap berhadapan dengan para pemodal besar, bahkan investor asing yang semakin menyerbu ibukota.

Kedua, Jokowi tidak terlalu menomorsatukan pedoman atau prosedur tertulis. Ini bukan berarti bahwa Jokowi menapikkan pentingnya kebijakan dan peraturan. Intinya, Jokowi lebih mengedepankan kinerja di lapangan, setidaknya itu yang saya tangkap. Kadang orang selalu mendahulukan kelengkapan prosedur tertulis. Jika itu sudah lengkap, maka aparat bisa bekerja dengan efektif. Sering kita mendengar ucapan: kita tidak bisa melayani dengan baik karena memang belum ada prosedurnya. Atau, kita tidak bisa mempercepat layanan karena SOP-nya memang seperti itu.

Menurut Jokowi, kebijakan atau pedoman di atas kertas tidaklah cukup. Jokowi memberi contoh pengembangan sistem yang tergolong radikal saat penerapan teknologi informasi dalam pengurusan KTP dan izin usaha. Pengembangan sistem baru tersebut bisa menstimulus perubahan prilaku aparat dalam meningkatkan layanan publik. Pelayanan di garis depan – berupa konter layanan masyarakat- pun ditata modern bak teller compartment sebuah bank. Bagi Jokowi, kantor layanan publik yang tersembunyi, remang-remang, dan kumuh bisa menjadi sarang korupsi.

Tantangan terbesar Jokowi di Jakarta adalah bagaimana merubah layanan dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini. Jakarta menjadi barometer Indonesia dengan penduduknya relatif lebih melek internet dibanding di daerah. E-government menjadi sebuah opsi yang menantang baginya. Keterbukaan dan akuntabilitas publik di era informasi adalah indikator utama yang bisa mengikis peluang penyelewengan atau penyalahgunaan kekuasaan. Namun, semua tergantung the man behind the gun. Soal merubah prilaku aparat, Jokowi berhadapan dengan heterogenitas dan kompleksitas birokrasi yang lebih tinggi dibanding Solo, pun keragaman warga masyarakat ibukota.

Selain itu, kepiawaian Jokowi dalam menata kebijakan dan prosedur birokrasi akan diuji dengan “perlawanan“ dari kubu “oposisi“ di DPRD. Bisakah Jokowi meloloskan dengan mudah berbagai perda yang pro rakyat atau pro pengusaha lokal dari hadangan pengusaha besar yang makin merajalela di ibukota. Sudah dipastikan geliat politik di DKI lebih “kejam” dibandingkan pemda tingkat dua. Motif politik yang sarat berbagai kepentingan tidak mudah untuk ditaklukkan, setidaknya semudah Jokowi menaklukan hati masyarakat Solo. Namun, selama Jokowi bisa merebut hati warga ibukota – apalagi jika ada kemajuan pesat yang dirasakan – elit politik pun mikir-mikir untuk menjegal kebijakan gubernur DKI yang mendahulukan kepentingan masyarakat.

Atau, beranikah Jokowi mencabut atau setidaknya memperbaiki perda yang masih menjadi kontroversi, misalnya Perda tentang RTRW 2010-2030 yang dianggap tidak pro lingkungan oleh para penggiat lingkungan. Pun Perda Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta benar-benar bisa membuat pasar tradisional dan toko atau warung kecil di Jakarta bisa berjaya lagi seperti di Solo. Kita tunggu saja keberanian Jokowi menutup eceran waralaba yang menjamur saat mereka melanggar perda.

Ketiga, disiplin dan alokasi anggaran pun menjadi salah satu kunci keberhasilan Jokowi saat memimpin di Solo. Baginya, harus ada prioritas mata anggaran yang bisa memicu atau mempunyai daya ungkit luar biasa untuk mendongkrak perekonomian lokal dan mutu layanan publik. Masih terngiang kata-katanya: “Saya tidak membuat anggaran kecil yang tersebar di banyak program”, kata Pak Joko. “Ribet dan tidak akan berdampak besar jika hanya mengurusi anggaran yang kecil-kecil”, tambahnya.

Skala, nilai, dan prioritas anggaran DKI Jakarta pastilah berbeda dengan Solo. Saat di Solo, proyek besar Jokowi adalah revitalisasi pasar tradisional dan penerapan e-goverment yang bisa mendongkrak perekonomian dan layanan publik di sana. Kini prioritas bisa berbeda, nilai proyeknya pun bisa berlipat-lipat. Kita tengok saja nilai APBD Jakarta tahun 2012 sebesar Rp 36 Triliun, atau lebih dari 30 kali dari APBD Solo pada tahun yang sama sebesar Rp 1,2 Triliun.

Setidaknya ada tiga proyek besar di Jakarta yang bisa menyedot anggaran: transportasi publik yang massal, revitalisasi sungai ciliwung, serta penghijauan dan tata kota. Atau, bisa juga Jokowi mengulang suksesnya di Solo dengan menggelontorkan anggaran besar untuk revitalisasi pasar tradisional serta program kesehatan dan pendidikan. Saat di Lemhanas Jokowi pun dengan bangga menunjukan hasil renovasi pasar tradisional, juga menunjukkan Kartu-Kartu kesehatan dan beasiswa pendidikan di Solo, yang tampilan fisiknya mirip Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang diterbitkan oleh perbankan.

Sebagai gudang uang, seharusnya jakarta tidak bermasalah dengan jumlah anggaran demi membangun ibukota. Namun, bisakah Jokowi mengurangi kemacetan, polusi, dan kemiskinan kota dengan membuat lima proyek besar tersebut? Ketika Jakarta tidak lagi malu melihat kota-kota besar lainnya di dunia dalam pemeringkatan Green City, Smart City, Digital City, atau Liveable City, Gubernurnya pun patut diacungi jempol. Oh iya, satu lagi, bagaimana sikap Jokowi terhadap rencana membuat tanggul raksasa di laut utara sebagai salah satu opsi terhadap indikasi semakin menurunnya permukaan tanah ibukota? Menghentikannya, atau tetap melanjutkan proyek yang mendapat hibah dari negeri Belanda tersebut.

*****

Andai-andai ini hanya berdasarkan asumsi bahwa cara dan gaya kepemimpinan Jokowi berulang atau bersifat statis. Namun, Jokowi belum tentu mempertahankan pendekatan atau teknik yang sama. Memang tidak ada garansi untuk itu. Bukankah ada gaya kepemimpinan yang bersifat situasional, atau kata para ahli, kepemimpinan yang cenderung menganut Contingency Theory yang percaya bahwa pendekatan atau teknik yang tepat pada satu tempat belum tentu berhasil juga di tempat lain. Selain itu, pendekatan yang tepat pada suatu waktu, belum tentu tepat pula pada masa kini atau nanti. Selalu ada ketidakpastian tentang masa depan atau keberhasilan seorang pemimpin.

Bisa saja Jokowi tetap menggunakan resep yang sama seperti di Solo, atau tidak menutup kemungkinan sedang menggodok cara lain yang lebih jitu untuk mengurus ibukota yang lebih luas dan ruwet. Itupun jika terpilih nanti. Dan, siapapun yang terpilih nanti, semoga gubernurnya bisa menjadikan Jakarta benar-benar jaya.

About these ads

Tentang Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Maret 27, 2012, in copy paste 27 mar 2012 and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: