Buku-buku tentang Jokowi yang Inspiratif

Minggu, 1 April 2012 saya menemukan buku-buku yang selama ini saya tunggu-tunggu kehadirannya. Buku-buku itu mengupas perjalanan hidup Ir. H. Joko Widodo atau yang terkenal dengan nama Jokowi, walikota Solo yang saya hormati, kagumi dan banggakan. Saya menemukan buku-buku tentang Jokowi itu di Gramedia Solo, Jalan Slamet Riyadi 284 atau sebelah Timur dari Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus Surakarta.

Buku pertama berjudul “Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker”, ditulis oleh wartawan senior dan mantan sekretaris jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Yon Thayrun dan diterbitkan Penerbit Noura Books. Sedangkan buku kedua berjudul “Jokowi Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi”, ditulis oleh wartawan senior Rakyat Merdeka, Zaenuddin HM dan diterbitkan Ufuk Press. Kedua buku itu diterbitkan pada Maret 2012.

Memang tulisan-tulisan tentang Jokowi banyak sekali ditemukan di internet, koran dan majalah. Tapi saya tetap mencari buku karena buku lebih utuh informasinya, tidak sepotong-potong. Dan, saya belum pernah melihat ada buku yang membahas Jokowi, kecuali baru dua buku itu.

Dengan membaca dua buku itu, kita menjadi tahu kehidupan Jokowi dari kecil sampai usia 50 tahun sekarang ini. Jokowi berasal dari keluarga yang hidupnya pas-pasan, yang berpindah dari satu bantaran sungai ke bantaran sungai yang lain. Jokowi kecil bersama orang tuanya juga pernah menjadi penghuni liar di Pasar Kayu Gilingan, serta pernah suatu ketika rumah yang ditempatinya digusur oleh Pemerintah Kota Solo tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Ayah Jokowi bekerja serabutan, mulai dari mencari kayu untuk digergaji menjadi bahan baku perabotan, berjualan bambu, menjadi sopir mobil pick up hingga menjadi sopir bus. Sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga yang sekali-kali membantu pekerjaan ayahnya saat berjualan kayu gergajian dan bambu.

Meskipun hidup susah, orang tua Jokowi menginginkan anaknya harus berpendidikan. Setelah lulus SD tahun 1974, Jokowi melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1 Surakarta, lalu SMA Negeri 6 Surakarta dan kemudian kuliah di Fakultas Kehutanan, Jurusan Teknologi Kayu, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada tahun 1988 Jokowi memulai usahanya. Dengan modal kredit dari bank sebesar 30 juta rupiah ia membuka usaha pabrik kayu. Betul-betul dari nol. Karena keterbatasan modal, ia melakukan efisiensi biaya dengan meminimalisasi jumlah karyawan. Tak segan-segan ia bergabung dengan karyawannya menjadi tukang. Ia menyerut kayu, mengecat, menata barang di kontainer yang akan diekspor, hingga menjadi kuli angkut mebel.

Usaha mebel Jokowi mengalami kemajuan pesat. Pada tahun pertama produk kerajinan mebelnya hanya dipasarkan di Solo, tahun kedua mulai menembus Jakarta dan kota-kota besar, sampai pada tahun ketiga mampu mengekspor ke Prancis. Permintaan ekspor terus melonjak drastis yang membuat usaha mebelnya kian Berjaya. Dari hanya satu pabrik, Jokowi berhasil memperluas usahanya menjadi delapan pabrik. Dari yang awalnya 3 karyawan menjadi 1.200 karyawan.

Kesuksesan usaha Jokowi dan keberhasilannya memimpin Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Solo Raya membawanya terjun ke dunia politik. Teman-teman Jokowi di ASMINDO membujuk dan merayunya supaya mau mencalonkan diri sebagai walikota Solo 2005-2010.

Tidak mudah bagi Jokowi untuk menerima tawaran teman-temaannya itu. Ia sama sekali tak membayangkan masuk dunia politik dan memimpin Kota Solo. Namun, ia juga merasa tertantang untuk bisa melakukan sesuatu terhadap kotanya sendirinya. Menurutnya, kalau mencalonkan diri sebagai walikota dengan tujuan hanya untuk memperoleh prestise dan uang, tentu menjadi pengusaha lebih banyak menghasilkan uang dibandingkan jadi walikota. Namun kalau memang memiliki visi dan pengabdian untuk masyarakat, jabatan walikota itu sangat strategis.

“Dari dulu walikota Solo tidak bisa mengatur kota dengan baik. Dari tahun ke tahun semakin tidak baik. Hotel juga tidak laku, kota semakin tidak teratur, semakin tidak rapi, di mana-mana ada PKL yang tidak di-manage dengan baik. Itu yang kelihatan mata,” kata Jokowi.

Jokowi akhirnya mendaftar sebagai calon walikota Solo berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo dan diusung oleh PDI Perjuangan. Pasangan Jokowi Rudi berhasil memenangkan pilkada 2005 dengan perolehan suara 37 %, mengalahkan 3 pasangan calon lainnya, termasuk pasangan incumbent.

Gebrakan pertama yang dilakukan Jokowi adalah pembenahan sistem pembuatan KTP dan perijinan. Sebelumnya, pembuatan KTP memakan waktu 2 minggu, diubah Jokowi menjadi hanya satu jam. Pengurusan perijinan semula memakan waktu 6-8 bulan, diubah Jokowi menjadi hanya enam hari karena menggunakan layanan one stop service. Kalau bisa mudah, kenapa harus dipersulit. Kalau bisa cepat, kenapa harus diperlambat.

Tempaan masa kecil dan kondisi yang menuntutnya untuk survive, sangat mempengaruhi karakter Jokowi. Ia tumbuh menjadi pribadi yang ulet, pekerja keras dan bersahaja. Kebiasaannya saat berkeliling pabrik untuk mengetahui secara langsung perkembangan bisnisnya, berbaur dengan karyawan dan bekerja bersama di lapangan, dibawanya hingga ke pemerintahan. Saat menjadi walikota, ia terbiasa mendatangi kampung-kampung di Solo, untuk mengetahui langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Meskipun menjabat walikota, Jokowi tetap tampil biasa dan sederhana. Ia biasa makan di warung-warung sederhana yang berada di pinggir jalan atau wedangan di angkringan yang berada di gang-gang sempit di kota Solo. Selain makanannya enak dan harganya murah, Jokowi ingin menyemangati warganya untuk tetap kuat membangun ekonomi kerakyatan.

Kesederhanaan lainnya dapat dilihat dari keengganannya mematuhi aturan protokoler. Ia tidak mau ada voorrijder yang mengiringi mobil dinasnya saat bertugas. Ia tidak mau ada pengawalan dari aparat kepolisian. Jokowi pun biasa tidur di hotel satu kamar dengan ajudannya. Alasannya, untuk melakukan efisiensi anggaran dan efektifitas koordinasi. “Saya tak masalah tidur bersama ajudan. Nyaman-nyaman saja. Ya, kalau ada dua single bed, kami tidur terpisah, tapi kalau cuma double bed, ya berdampingan,” ungkap Jokowi.

Sama halnya ketika naik pesawat, Jokowi memilih duduk di kelas ekonomi dan duduk berdampingan dengan ajudannya. Bahkan Jokowi enggan mengganti mobil dinas Toyota Camry keluaran tahun 2002, peninggalan walikota sebelumnya. Prinsipnya, selagi masih bisa dipakai, tidak perlu diganti. Karena itu bisa membebani anggaran daerah.

Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata selama 6 tahun setengah menjadi walikota Solo, Jokowi tidak pernah mengambil gajinya. “Saya ini tak pernah ngurusi gaji. Saya tanda tangan, tapi tidak menerimanya, coba saja crosscheck pada ajudan saya,” katanya. Ketika ditanyakan untuk apa gaji itu, dengan rendah hati ia tak mau menjawab. “Nggak, nggak, saya tidak mau menjawab, karena terlalu riskan dan jadi gimana gitu, saya ndak mau dikira sombong. Itu wilayah pribadi saya. Yang penting saya tidak pernah ambil gaji,” tegas Jokowi yang sudah merasa cukup dengan penghasilan dari usaha mebelnya.

Kemungkinan besar gaji Jokowi diarahkan untuk kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang-orang yang tak mampu. Sebab, menurut ajudannya, Hanggo Henry, Jokowi selalu menyediakan banyak bungkusan beras 3 kg di mobilnya. Jika di jalan Jokowi menemui tukang becak, orang tua yang sedang melintas atau tukang parkir, dengan segera ia menyerahkan beras tersebut. Setiapkali ajudannya hendak mengabadikan kegiatan Jokowi itu, selalu dilarang. Sepertinya ia menghayati makna apabila tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu. Ia juga mampu membedakan mana urusan Tuhan, urusan pribadi atau keluarga, urusan rakyat, urusan politik dan urusan pemerintahan.

Kehidupan masa kecil Jokowi yang serba sulit membuatnya ringan tangan untuk memberi, membantu atau menolong sesama manusia, pada saat ia sudah berkecukupan. Tidak hanya beras, Jokowi juga sering membagikan buku-buku kepada anak-anak yang ditemuinya saat keliling ke kampung-kampung. Ia tak ingin masa lalunya terulang pada anak-anak yang hidup sekarang di bawah pemerintahannya. Bahkan alasannya membuat Taman Kota di Tirtonadi adalah supaya anak-anak bisa bermain di dalamnya, tidak lagi di pinggir kali seperti masa kecilnya dulu.

Jokowi memang pemimpin yang merakyat, yang mencintai rakyatnya sehingga seluruh kebijakan yang diambilnya diorientasikan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Selama menjadi walikota, ada 20 permohonan pembangunan mal di Solo, dan semuanya ditolak. Ia ingin membuat pasar tradisional maju dan berkembang agar rakyat merasakan dampak perkembangan ekonomi. “Kalau membangun mal yang diuntungkan hanya satu orang, pemilik mal. Kalau membangun banyak pasar tradisional, menguntungkan ribuan orang yang berdagang di sana,” ungkapnya. Karena itu, ia menolak pembangunan mal di bekas pabrik es Saripetojo, yang kemudian memicu perseteruan dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo beberapa waktu lalu.

Ia juga membatasi pembangunan minimarket di Solo tidak lebih dari 12 tempat, padahal ada 80 permohonan ijin pembangunan minimarket. Itu semua dilakukan Jokowi untuk mengembangkan pedagang kelontong, pasar tradisional dan usaha kecil menengah.

Sebelum menjadi walikota dan bergelut dengan pabrik mebelnya, Jokowi tak pernah menggunakan kekuasaan sebagai pemilik pabrik untuk show of force kepada karyawannya. Ia lebih sering menggunakan pendekatan yang lembut kepada karyawannya apabila ada masalah yang harus diselesaikan. Nguwongke uwong (memanusiakan manusia atau menghargai martabat manusia). Karakter itu yang masih dibawa ketika menyelesaikan persoalan warganya.

Salah satunya yang tampak mencolok dan mendapat peliputan besar-besaran oleh media adalah relokasi 989 orang Pedagang Kaki Lima (PKL) di Banjarsari. Tidak ada kekerasan sama sekali. Bahkan kepindahan PKL ke tempat baru itu diiringi kirab budaya dengan beraneka ragam kelompok kesenian dan prajurit keraton. Kesuksesan relokasi PKL Banjarsari diikuti relokasi di 23 tempat lainnya. Prestasi itu telah membawa Jokowi ke Markas Besar PBB di New York untuk berbicara di depan ratusan tamu undangan dalam acara Governing Council Forum 2008. “PKL itu aset, sumber pendapatan daerah lewat pajaknya. Jadi jangan dianggap musuh. Jangan diusir dengan cara-cara kekerasan,” katanya.

Selain sederhana, bersahaja dan pro-Wong Cilik, Jokowi juga anti-KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Dengan tegas ia menolak investasi yang dilakukan secara kotor dan menghalalkan segala cara. “Silakan berinvestasi di sini, tapi jangan coba-coba menyuap staf saya dan perangkat pemerintahan di Solo untuk mendapatkan izin. Saat ini ada 13 hotel berbintang yang mau membangun hotelnya di Solo, semua izinnya masih di meja saya. Saya yang akan menentukan semuanya, tentu dengan cara yang terbuka sehingga siapa pun di Solo bisa bertanya kepada saya bagaimana sebuah hotel bisa dibangun dan mendapatkan izinnya” jelasnya.

“Jujur saja, banyak yang mau menyuap saya. Mungkin mereka telah 5-10 kali minta izin pendirian mal atau hypermarket , tapi seolah saya persulit. Lantas mereka merayu dan menawarkan saya sesuatu. Tapi saya tolak, sebab itu melanggar aturan,” tambahnya.

Untuk menekan korupsi yang dilakukan aparaturnya, banyak kebijakan telah diambilnya. Antara lain dalam hal pengadaan barang dan jasa, ia menerapkan sistem e-procurement, yaitu pelelangan atau pengadaan barang dan jasa yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik berbasis internet. Dengan sistem itu, semua pelelangan dilakukan secara terbuka dan transparan sehingga peluang korupsi menjadi sulit.

Tak heran bila anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming (24 tahun), tidak pernah memanfaatkan posisi ayahnya untuk memperlancar bisnisnya. Ia pinjam kredit sendiri untuk membuka usaha catering tanpa campur tangan ayahnya. Bahkan, Jokowi melarang anaknya menawarkan catering di bali kota. “Sangat tidak etis,” kata Jokowi. Ternyata tidak hanya Jokowi. Anaknya pun bersikap demikian. “Saya tidak suka kalau Bapak datang lihat-lihat usaha saya,” ungkap Gibran.

Usaha Jokowi dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN telah membawa Solo menjadi kota terbersih dari korupsi ke-3 versi Transparancy International Indonesia (TII) tahun 2010.

Di bidang budaya, banyak hal telah dilakukan Jokowi di kampung halamannya. Tahun 2006 ia berhasil membawa Solo terdaftar dalam Organization of World Heritage Cities dan menjadi satu-satunya dari Indonesia, tahun 2007 Solo bahkan menjadi tuan rumah the World Heritage Cities Conference and Expo dan pada 2008 UNESCO mengakui kesenian wayang kulit sebagai warisan budaya dunia.

Jokowi telah menghidupkan kembali Solo sebagai kota budaya. Ia populerkan slogan baru “Solo, The Spirit of Java”. Ia operasionalkan Bus Solo Batik Trans, Bus Tingkat Werkudara, Sepur Klutuk Jaladara berbahan bakar kayu jati yang melintasi pusat kota. Ia gelar acara-acar budaya yang sudah masuk event nasional seperti Solo Batik Carnival, Solo International Performing Art, Solo Batik Fashion dan Solo Keroncong Festival. Ia tetapkan sepanjang Jalan Slamet Riyadi pada hari Minggu sebagai Car Free Day dan ia bangun City Walk di banyak ruas jalan raya di Solo, dan masih banyak lagi kreatifitas yang dibuat Jokowi selama memerintah.

Secara ekonomi, Jokowi sukses memperbesar Penghasilan Asli Daerah Kota Solo yang tadinya hanya Rp 54 miliar pada tahun pertama ia menjabat, menjadi Rp 146 miliar di akhir masa jabatan pertamanya tahun 2010.

Atas kerja kerasnya membangun Kota Solo, Jokowi pernah terpilih dalam “10 Tokoh 2008” versi Majalah Tempo, dianugerahi Bung Hatta Award 2010, mendapat MIPI Award 2011, sebagai walikota Terbaik versi Departemen Dalam Negeri, dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan 2010 oleh Harian Republika, dan hari-hari ini nama Jokowi masuk dalam nominator Kepala Daerah Dunia yang diselenggarakan oleh The City Mayors Foundation. Prinsipnya adalah berani membuat terobosan, tidak sekedar menjalani rutinitas yang monoton, harus selalu ada pembaharuan dan inovasi.

Dengan segudang prestasi itu, tak mengagetkan bila Jokowi kembali dipercaya warganya untuk memimpin Kota Solo yang kedua kalinya. Pada pilkada 2010, ia meraih suara 90,9 %. Perolehan suara yang besar itu bukan dengan cara membeli suara rakyat, karena ternyata dana kampanye yang digunakan hanya 500 juta. Ia tidak perlu banyak bicara, karena rakyat sudah bisa merasakan dan menikmati hasil kepemimpinan Jokowi.

Rakyat sudah bisa menilai siapa Jokowi sebenarnya. Dia adalah pemimpin yang sebenar-benarnya, yang mencintai rakyatnya dan bertindak demi rakyat. Dia sosok pemimpin yang ikhlas, tawadhu, tidak sombong dan tidak ingin dipuji. Terbukti, selama 6 tahun setengah menjadi walikota, foto Jokowi tak pernah muncul di baliho atau brosur Kota Solo.

Itulah sekelumit dari isi kedua buku tentang Jokowi. Akan lebih jelas dan lebih puas, jika Anda membaca sendiri. Buku “Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker” setebal 238 halaman dan buku “Jokowi Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi” setebal 137 halaman. Kedua buku itu layak dan perlu dibaca oleh siapapun, tua-muda, pria-wanita. Sebab, isinya penuh dengan keteladanan dari seorang pemimpin sejati.

About these ads

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on April 5, 2012, in copy paste 5 Apr 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: