“Kekagetan” di Masa Tenang

134789532058912842politik.kompasiana.com

“Pak katanya memilih Jokowi berarti tanda sebentar lagi akan terjadi kiamat” kata seorang anak kepada ayahnya. “Siapa yang ngomong gitu?” Ayahnya penasaran. “Kata pak guru di sekolah” jelas sang anak. “Kenapa gurumu mengatakan begitu”, selidik sang ayah. “Soalnya wakil Jokowi -Ahok- orang kristen, Cina lagi”, sang anak memperjelas.

Astaghfirullah. Saya yang mendengar percakapan tersebut terkaget-kaget, sampai segitunya kubu Foke menghalalkan segala cara untuk mempertahankan jabatannya. Perlu diketahui percakapan di atas adalah kejadian nyata dan terjadi sesaat sang anak baru saja sampai di rumah sepulang sekolah dari SMP di bilangan Jakarta Pusat.

Sekali lagi saya merasa kaget dan miris dengan pola kampanye yang dilakukan oleh kubu Foke-Nara, karena indoktrinasi tersebut pasti berdampak serius pada perkembangan anak dan generasi muda Indonesia.

Kubu Foke-Nara yang didukung oleh partai-partai besar yang sebagian besar berbasis Islam nampak jelas melakukan apa saja dengan semangat “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”. Cara halal dan haram tak berarti lagi bagi mereka karena yang penting (harus) menang.

Padahal kemarin saya juga baru saja membaca artikel seorang kompasioner yang bercerita bagaimana para murid SD di Jakarta mendapatkan tugas PR dari guru mereka untuk mengisi kuasioner yang isinya menjurus kepada memperalat anak-anak untuk mempertanyakan pilihan orang tua mereka pada pilkada DKI saat ini

Dan masih banyak lagi “modus-modus” yang di luar nalar dan tidak beretika yang dilancarkan oleh kubu Foke-Nara untuk menghadapi Jokowi-Basuki di putaran 2 ini. Belum lagi surat edaran gubernur ke seluruh RT RW di Jakarta.

Foke adalah seorang yang sangat terdidik, dimana sedari kecil Foke bersekolah di sekolah-sekolah bermutu. Foke adalah sarjana Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Teknik Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universitat Braunschweig Jerman. Bahkan Foke adalah seorang Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raumund Umweltplanung – Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Jerman,. Selain itu Foke juga mendapatkan pendidikan Sepadya, Sespanas dan Lemhannas KSA VIII.

Sementara Nara adalah Jenderal TNI AD dan perwira teknik elektro alumni Akademi Militer (Akmil), teman satu angkatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan lulus tahun 1973. Setelah itu, Nara berkarier di dunia intelijen sejak tahun 1974 hingga menjadi Kepala Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia tahun 2002 – 2008. Saat ini Nara adalah Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta.

Tetapi dalam setiap penmpilannya, baik Foke maupun Nara jauh dari cerminan figur yang berpendidikan baik. Sikap, tindakan dan ucapannya cenderung “kasar” dengan pilihan bahasa dan kosa kata layaknya “preman” atau anak jalanan. Belum lagi karakter keduanya yang temperamental serta anti kritik dan selalu meremehkan dan menganggap rendah orang lain.
Selama masa kampanye pilkada DKI 2012 ini, tidak ada pelajaran yang dapat dipetik dari dua figur calon “pemimpin” tersebut. Yang terjadi, rakyat selalu dibuat bingung dan geleng-geleng dengan tingkah polah dan ucapan-ucapan keduanya yang tidak lebih bermutu dari anak TK.

Maka wajar, meskipun Foke incumbent dan selalu menggembar-gemborkan keberhasilannya membangun Jakarta, perolehan suaranya di pilkada putaran 1 hanya 34,32%, kalah dari Jokowi yang mendapatkan 43%. Sebagai incumbent yang sedang berkuasa dan diprediksi mampu memenangkan pilkada dalam 1 putaran, kalah dari seorang pendatang (Jokowi) pasti membuatnya syok.

Tetapi apakah pantas kekalahan tersebut menjadikan Foke membabi buta melakukan segala cara untuk memenangkan pilkada putaran 2?

Bagi orang yang waras, sikap tersebut pasti tidak pantas. Tetapi bagi Foke-Nara dan kubunya, semua cara adalah wajar dan halal karena jabatan dan kekuasaan bagi mereka adalah segalanya.

Sebagai kumpulan orang-orang terdidik dan juga menjabat posisi-posisi strategis di pemerintahan, seharusnya Foke-Nara dan kubunya paham bahwa rakyat atau warga negara Indonesia memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin.

Indonesia yang berazaskan Pancasila dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika menjamin bahwa tidak ada yang bisa menghalang-halangi setiap warga negera dengan dalih suku, agama, ras atau bahasa untuk mengejar dan meraih mimpinya menjabat sebagai seorang pemimpin di negeri ini.

Tetapi bila SARA selalu dijadikan “senjata” untuk menghantam lawan politiknya, maka patut dipertanyakan pehamaman Foke-Nara dan kubunya terhadap nasionalisme dan patriotisme untuk bangsa ini.

sumber http://politik.kompasiana.com/2012/09/17/kekagetan-di-masa-tenang/

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on September 18, 2012, in copy paste 18 September 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: