Buku

Jokowi (Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker)

Penulis: Yon Thayrun

Penerbit: Hikmah (Maret 2012)

“Jika semangat antikorupsi Jokowi ditularkan, saya yakin negara ini akan bebas korupsi.”

—Abraham Samad, Ketua KPK (Tribunnews.com)

Sinopsis:

Ia tumbuh dalam kondisi keluarga serbapas. Rumah yang ia tinggali berpindah dari satu bantaran kali ke bantaran kali yang lain. Bersama keluarganya ia pernah menjadi penghuni liar di pasar kayu, dan rumahnya itu pernah digusur oleh Pemerintah Kota Solo tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Namun takdir berkata lain. Anak itu, yang kini kita kenal sebagai Jokowi, membuktikan dirinya layak diperhitungkan di kancah kehidupan. Ia berhasil menaklukkan Solo dengan menduduki posisi wali kota dua periode.

Jokowi si tukang kayu, benar-benar dicintai rakyatnya. Dan ia pun mencintai mereka. Ia sanggup berdiri menantang badai dari pusat kekuasaan; tak segan jagongan bareng warganya di area pos kamling; mengayomi pedagang kaki lima dan wong susah; mengubah imej Satpol PP; tak pernah mengambil gajinya selaku wali kota. Mobil Esemka adalah proyek prestisiusnya untuk Indonesia mandiri. Satu lagi, ia penggila berat Judas Priest dan Lamb of God. Jiwa rocker itu juga yang membuatnya jadi manusia bebas, disiplin, tekun, sederhana, rendah hati. Ia JOKOWI, pemimpin rakyat berjiwa rocker.

Preview Buku : Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi

Tahun 2005 silam ada survey di Solo. Hasilnya: Mayoritas warga Solo ingin pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan taman di pusat kota disingkirkan. Keinginan warga Solo ini beralasan, sebab tiga walikota sebelumnya angkat tangan dengan masalah ini.

Jokowi – saat itu baru dilantik jadi walikota, membuat strategi untuk meluluhkan hati para pedagang kaki lima. Ia tidak mau mengerahkan Satpol PP karena nantinya berbuntut kericuhan.
Koordinator pedagang dari 989 pedagang di Banjarsari diundang makan siang di Loji Gandrung, rumah dinas walikota. Proses lobi ini ternyata tidak cukup sekali, melainkan Jokowi (yang juga pengusaha eksportir mebel selama 18 tahun) harus melakukan hingga 54 kali lobi.
Akhirnya para pedagang mau pindah asal tidak kehilangan pembeli. Jokowi pun membantu mengiklankan lokasi baru selama empat bulan di televisi dan media lokal. Tak cukup itu saja, ia juga memperlebar jalan akses ke sana dan membuat trayek baru angkutan kota.
Hal ini merupakan cerminan keberhasilan Jokowi menjadi Walikota Solo.
Namun, ada pula kisah “belum berhasil” sang Walikota tersebut. Yakni terjadi saat mobil Kiat Esemka diluncurkan. Banyak tokoh mengkritik dan menyepelekan karya anak-anak SMK Solo tersebut.
okowi tetap pada pendiriannya untuk mendukung, yang penting adalah kebanggaan pada hasil karya anak negeri. Maka, ia pun mengendarai sendiri mobil Esemka ke Jakarta untuk uji emisi. Meski dilanda kritik bahwa Jokowi hanya ingin mencari popularitas, ia tak peduli.

Ternyata Esemka tak lolos uji emisi. Jokowi akhirnya membesarkan hati anak-anak SMK Solo untuk tidak putus asa, dan melakukan perbaikan agar kelak mobil ini mendapat pengakuan.
Itulah karakter seorang pemimpin, menjaga semangat rakyatnya agar terus menyala.
Semua kisah di atas adalah nukilan buku “Jokowi Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi” karya Zenuddin HM, yang baru rilis bulan Maret 2012 ini.
Bisa jadi, peluncuran buku yang bertepatan dengan gonjang-ganjing Pemilukada DKI Jakarta merupakan langkah menarik simpati masyarakat Jakarta. Entah, kami pun tidak mau ikut terlibat dengan masalah ini.
Yang pasti, buku ini menceritakan seorang tokoh, seorang pemimpin yang benar-benar berusaha menjadi pemimpin yang baik dan dicintai rakyatnya. Tanpa tangan besi, tanpa unjuk kuasa. Hal ini sudah sangat, dan sangat langka di Indonesia, bukan?
.
Ahok buku
Saya sempat membaca cepat naskah buku biografi A Hok alias Basuki Tjahaya Purnama. Ia mengingatkan saya kepada almarhum Soe Hok-gie, adik Soe Hok-djin (Arief Budiman) yang dari aktivis menjadi golput hingga meninggalnya akibat gas beracun di Gunung Semeru. Bedanya tentu saja, A Hok langsung terjun ke politisi, sedang Hok-gie frustrasi dengan langkah para tokoh demonstran Angkatan 66 yang menjadi anggota DPR. Bersama rekan kampus yang kritis, Soe Hok-gie mengirim kado lipstick kepada Presidium KAMI Pusat yang duduk di anggota DPR. Setelah adiknya gugur, Arief Budiman yang tadinya lebih bergerak dibelakang layer, terjun sebagai aktivis memimpin Golongan Putih yang memprotes pemilu zaman Soeharto yang dianggap tidak memberi peluang kepada calon yang berpotensi menjadi oposisi dan pesaing Soeharto untuk maju

Indonesia memerlukan perubahan ! Demokrasi yang tengah dinikmati Negara ini – setelah lama menghilang – belum banyak menghadirkan tokoh baru yang dapat memberikan perubahan positif di Indonesia.

Basuki Tjahaja Purnama (BTP) adalah bupati Indonesia Tionghoa pertama yang membuat sejarah terpilih sebagai pemimpin di daerahnya lewat pilkada langsung pertama Indonesia tahun 2005. Ia suskes terpilih sebagai pemimpin walau berlatar belakang non muslim dan bersaing di tempat di mana komunitas muslim mencapai jumlah hingga 93% dari total penduduk.

Lewat buku ini, BTP memperlihatkan visi serta misinya dalam menjadi seorang pemimpin yang lurus serta bersih juga berdedikasi penuh terhadap kesejahteraan rakyat. Berbagai tips yang telah dipraktekkannya dalam mengatasi masalah kedaerahan di sini, bukan mustahil apabila diterapkan secara sistematis mampu pula mengatasi beragam masalah nasional yang dihadapi negara kita saat ini. Ia tidak asal bicara, setidaknya penghargaan pin tokoh reformasi yang disematkan Prof. Amien Rais, gelar penyelenggara negara antikorupsi 2006 dari tiga pilar award (KPK, Kadin, Menpan dan Menkomfindo) adalah bukti mutlak keteguhan serta kebersihan putra asli Bangka-Belitung ini.

Segala pengalaman serta cara berpolitiknya yang tertuang dalam buku ini diharapkan mampu memancing minat para politikus muda ataupun kaum idealis untuk tertarik masuk ke dalam dunia politik secara serius namun tetap mampu bertahan teguh dengan prinsip ‘bersih-transparan-profesional’ (BTP) hingga mampu memperbaiki kondisi negara ini secara total. Buku ini diberi judul ‘Merubah Indonesia’ sesuai dengan judul yang dipergunakan oleh majalah Tempo edisi khusus akhir tahun 2006 saat menempatkan BTP sebagai salah satu tokoh yang mampu memberikan kontribusi positif bagi perubahan di Indonesia.

Bab1Online  Bab6Online      Bab11Online

Bab1Online  Bab7Online      Bab12Online

Bab3Online  Bab8Online      Bab13Online

Bab4Online  Bab9Online      Bab14Online

Bab5Online  Bab10Online   Bab15Online

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: