Belajar Dari Jokowi (02) : Ekonomi Pro Rakyat

Belajar Dari Jokowi (02) : Ekonomi Politik Berbasis Rakyat

Seperti pada uraian tulisan pertama saya pada artikel : Belajar Dari Jokowi (02) tadi tentang tiga hal dasar yang dilakukan Jokowi yaitu :

    • Wareg (Kenyang)
    • Waras (Sehat)
    • Wasis (Mampu/Berketrampilan/Berpendidikan)

Maka kita fokuskan pada kerja Jokowi di tahap pertama, yaitu : ‘Kerja dia dalam melakukan ‘Politik Anggaran’ yang berbasis pada pengembangan akses ekonomi rakyat’.

Pasar Sebagai Pelopor Akses Ekonomi Rakyat

Di masa sebelum pemerintahan Jokowi, kota Solo berkembang sebagai Kota Modern. Sisi baiknya kota Modern adalah mulai tumbuhnya investasi-investasi dari luar kota untuk masuk dan merebut wilayah-wilayah konsumsi warga Solo. Apartemen, Hotel dan Mal mulai berjamuran dimana-mana. Ada situasi diam-diam yang mengancam yang tidak begitu diperhatikan yaitu : mulai tergusurnya orang kecil dalam mengakses wilayah mereka untuk mencari uang. Disini Pasar Tradisional tinggal sedepa lagi gulung tikar digantikan Pasar Modern, Mall dan Hypermarket yang lebih efisien, bersih dan padat modal. Rakyat Solo akan kehilangan sebagian ruh-nya dalam Pasar Tradisional.

Karakteristik Masyarakat Solo

Salah satu yang dipegang Jokowi adalah : Jangan Sampai Perkembangan Kota Membunuh Sejarahnya. Disini Pasar juga merupakan bagian dari ‘Sejarah Perkembangan kultural’ selain pusat pertumbuhan ekonomi. Pasar adalah bagian integral perkembangan sejarah masyarakat. Tapi selain itu Jokowi juga harus memadukan bagaimana sebuah Pasar juga harus patuh pada konsep tata ruang kota, Pasar tidak bisa mengganggu aspek lain, dinamika multiaspek inilah yang kemudian menjadikan bahan pelajaran bagi Jokowi untuk menerapkan bagaimana mengubah satu situasi yang ada dan tidak baik menjadi situasi yang ada dan baik dengan pendekatan pembangunan yang berdimensi kemanusiaan.

13369199741681936013Masyarakat Solo sangat dekat dengan Pasar, mereka bahkan akrab dengan Pasar yang selalu berhubungan dengan nama hari dalam bilangan Jawa, seperti Pasar Legi, Pasar Kliwon atau Pasar Pon. Ini sama persis dengan budaya masyarakat Batavia atau Djakarta di masa lalu dengan Pasar berdasarkan nama hari seperti Pasar Minggu, Pasar Jum’at atau Pasar Rebo dimana pembukaan pasar itu berdasarkan nama hari. Keadaan itu berubah, Pasar tidak lagi dibuka berdasarkan nama hari tapi tiap hari. Dalam sejarah Solo, Pasar juga mengambil perkembangan penting dalam sejarah Solo bahkan sejarah Indonesia. Pasar Klewer misalnya sangat erat dengan perkembangan Sarekat Dagang Islam, cikal bakal Sarekat Islam sementara Pasar Legi bisa dikaitkan dengan Perkembangan Gerakan Nasional pada tahap-tahap awal, di sekitar Pasar Legi dulu berlangsung pertemuan-pertemuan pergerakan yang dilakukan oleh dokter Tjiptomangunkusumo, Tjokroaminoto, Raden Djojopanatas, Sosrokardono, Douwes Dekker, Sukarno dan lain-lain. Bahkan Bung Karno sendiri sering pidato di bioskop dekat Pasar Pon. Artinya Pasar-Pasar di Solo memiliki napak tilas bagaimana bangsa ini didirikan. Keadaan ini mirip dengan Pasar Senen di Jakarta, dimana dulu jam-jam pertama pertarungan jalanan antara pemuda pro Republikein dengan pasukan Inggris dan NICA sering meletus atau di Pasar Cikini yang merupakan tempat kaum pergerakan banyak bertemu untuk bicara soal-soal politik termasuk disana Tan Malaka, Pandu Kartawiguna ataupun Maruto Nitimihardjo.

1336920169697766743

Disinilah kemudian berkembang bahwa kota memiliki sejarahnya, dan kebijakan pemerintahan kota yang baik harus tidak lepas dari sejarah perkembangan kota.

Pasar Klithikan Banjarsari, Sebuah Pilot Project

Pasar Banjarsari terletak di satu kawasan yang dulunya bernama ‘Villapark’, Villapark ini bisa disebut sebagai ‘Menteng-nya’ Solo. Disinilah pada tahun 1900-an Pemerintahan Hindia Belanda menawarkan pada Pemerintahan Voorstenlanden (dulu Solo adalah kota yang berdaulat dengan sebutan Voorstenlanden, dimana sang Raja masih memiliki hak kuasa). Tentang sebuah kota modern. Villapark adalah cetak biru awal pembangunan kota Solo secara modern yang memperhatikan sanitasi, kebersihan lingkungan dan tertata sesuai dengan peruntukan wilayah. Di masa pendiriannya blue print ini akan berkembang menjadi contoh bagi pengembangan wilayah lain.

Di Masa Orde Baru, dibangunlah tugu Monumen 1945 memperingati ‘Serangan Umum Surakarta’. Yang sering disebut sebagai ‘Perang Solo 1949’. Perang Solo 1949 ini sebenarnya lebih dahsyat daripada serangan umum Yogyakarta 1949 hanya saja karena Komandan pertempuran di Yogya adalah Suharto yang kelak jadi Presiden RI, maka Serangan Umum Yogya lebih dikenal dalam sejarah. Serangan umum Surakarta adalah perang yang dilakukan Tentara Pelajar Serangan Umum Tentara Pelajar Solo pada tanggal 8 Pebruari 1949, 2 Mei 1949 dan 7 – 10 Agustus 1949. Serangan ini berhasil menekan Belanda di Meja Perundingan KMB dengan titik penting pertama : -Bahwa apa yang dilakukan Belanda pada Desember 1948 dengan menduduki Semarang-Yogyakarta adalah sebuah bentuk agresi militer, Kota Solo menolak pendudukan Yogya dan melakukan perang. Di depan PBB, LN Palar berpidato bahwa: “ Telah berlangsung perang di Kota Surakarta dan Yogyakarta, juga kota-kota lain dan pemerintahan kami masih ada di Bukittinggi, menandakan bahwa kami Republik Indonesia masih ada”

1336922780337980228

Pada tahun 1970-an diusulkan agar dibangun Monumen 1945, nama 1945 ini sendiri mengacu pada tahun kemerdekaan RI. Karena masyarakat Solo mengalah bahwa 1949 memang Yogya ada serangan umum-nya dan menjadikan peringatan bahwa ‘seluruh perang sejak 1945-1949’ adalah perlawanan yang harus dikenang.

Monumen itu kemudian dikenal masyarakat Solo sebagai Monumen Banjarsari.Dalam perjalanan sejarahnya Kota Solo berkembang menjadi kota yang tertib, di tahun 1980-an dan 1990-an awal kota Solo dikenal sebagai “Kota Berseri”, Kota ini langganan piala Adipura, susunan masyarakatnya teratur, dan Solo menjadi kota yang amat berbudaya di setiap sudut kota bermunculan pusat-pusat kebudayaan rakyat mulai dari Keroncong, Wayang Kulit, Wayang Orang, Sendratari, Ketoprak Tobong, sampai Pada grup lawak, Srimulat sendiri, grup lawak paling legendaris di Indonesia berasal dari kota Solo.

Monumen Banjarsari adalah pusat pertemuan masyarakat Solo, anak-anak sekolah berolahraga di Monumen, disana berkembang sebuah masyarakat ‘Pertemuan’ ketimbang masyarakat ‘kompetitif’ Solo membentuk karakternya. Di Solo pula berkembang sebuah masyarakat yang menjadikan Pasar tidak sekedar ‘Jual Beli’ tapi Pasar sebagai ‘pertemuan antar manusia’ dimana manusia tidak terasingkan oleh lingkungan, manusia bisa menyatu dengan manusia lainnya dalam filosofi dasar Pasar.

13369215051497634612

Di sebelah barat Monumen dulu ada sederet Pasar Barang Bekas, orang Solo menyebutnya ‘Pasar Klithikan’. Di tahun 1990-1997 Pasar ini hanya sederet kecil dan tidak mengganggu kenyamanan kota. Pada tahun 1997 terjadi krisis moneter, di Jakarta sendiri dikenang di tahun itu sebagai ‘tahun PHK’ banyak bermunculan pedagang-pedagang makanan yang digelar ‘Pegawai Bank’ untuk mendapatkan penghasilan. Pedagang Makanan itu banyak dijumpai di sekitar Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, sementara di Solo, untuk menampung PHK dan kesulitan ekonomi banyak warga berinisiatif berdagang Pasar Bekas Klithikan di sekitar Monumen 1945.

Kerusuhan politik 1998 meledak, tidak seperti Yogyakarta yang berhasil dikendalikan Sri Sultan, Solo tidak memiliki kepemimpinan kultural efektif, banyak pemain politik tingkat nasional di masa itu adalah orang Solo asli, bahkan puncak pertarungan terjadi antara Harmoko dengan lawan politiknya Amin Rais yang sama-sama orang Solo. Puncak pertarungan di tingkat atas inilah merembet pada pembakaran-pembakaran di Kota Solo. Bahkan Suharto sendiripun lebih dekat pada Solo ketimbang Yogyakarta karena Ibu Tien Suharto dikenal sebagai Kerabat Mangkunegaran. Solo amat dekat dinamika politik waktu itu.

Perkembangan Pasar Klithikan setelah masa reformasi menjalar tak terkendali, wilayah monumen 45 dimasuki dan dijadikan sangat kumuh, wilayah kota yang tadinya bersih menjadi kotor dan ruwet. – Dua Walikota gagal menyelesaikan ini. Anak-anak sekolah tak lagi bisa berolahraga di Monumen 45, semuanya menjadi tak nyaman.

13369212021287892002

Wilayah Banjarsari adalah tantangan Politik pertama kali bagi Jokowi untuk menerapkan strategi pengembangan kota yang didasarkan pada Pasar Tradisional dan memanusiakan kemanusiaan.

Saat melakukan ‘Penawaran Politik’ 2005 pada masa ia melakukan studi-studi dan mendengar apa maunya rakyat Solo saat ia mencalonkan Walikota Solo pada tahun 2005, ia mendengar keluhan warga Banjarsari, ia juga mendengar keluhan disekitar wilayah Monumen 45, ia juga mendengar keinginan anak-anak sekolah memiliki ruang terbuka di Monumen 45 seperti masa-masa kakak kelasnya dulu. Namun ia juga mendengar keluhan pedagang Pasar Klithikan. ‘Memindahkan Pasar bukan ide yang mudah, harus diberikan solusi-nya’.

Akhirnya di tahun 2005, masyarakat Solo coba-coba dengan memilih Jokowi, dan ia terpilih menjadi Walikota Solo, Pasar Banjarsari adalah kerjanya setelah membereskan birokrasi, setelah ia membereskan internalnya, yaitu : reformasi Birokrasi yang efisien. Pasar Banjarsari adalah kerja politiknya yang pertama dan merupakan langkah raksasa untuk membuka kerja politik berikutnya.

Permasalahan Pasar Banjarsari amat klasik, berkembangnya suatu pasar tidak resmi, bertahannya pedagang dan keluhan lingkungan serta kebingungan Pemkot (Pemerintahan Kota) dalam menangani Pedagang. Jokowi berpikir keras apa yang harus dilakukan. Ternyata ia menemukan bahwa untuk menyelesaikan persoalan kerasnya pedagang, tuntutan lingkungan dan macam sebagainya maka yang harus dilakukan adalah ‘pendekatan kultur’.

Di tahap pertama, Jokowi mendesain pasar yang kelak akan ditawarkan ke floormenjadi sebuah penawaran publik, penawaran itu kemudian ia wujudkan untuk bertemu, ia harus sabar mendengarkan. Pedagang Pasar diperlakukan setara dengan Investor, mereka dimanusiakan, Jokowi melihat Pedagang Pasar juga ‘pemilik sah kota’, Shareholder yang diperlakukan dengan rasa hormat, mereka diundang, tidak seperti kota-kota lain yang banyak menyelesaikan persoalan pemindahan pasar dengan kebakaran, dengan menonjoki, dengan menindas, tapi Jokowi menawarkan solusi.

Pertemuan berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan dan teramat alot, Jokowi yang dibesarkan dalam situasi bisnis mengerti bahwa negosiasi dengan pihak pedagang pasar tak ubahnya negosiasi bisnis, ia harus paham bagaimana cara pikir dan kemauan masyarakat juga menawarkan skim yang adil, skim ‘win-win solution’. Ratusan kali pertemuan akhirnya disepakati :

  1. Bangunan Pasar Baru harus sesuai dengan ekspektasi pedagang berdasarkan peluang bisnisnya, tidak boleh berada di tempat yang tidak strategis.
  1. Pemkot harus menjamin adanya Transportasi ke arah Pasar, ini artinya : calon konsumen mudah mengakses pasar, harus ada perencanaan yang rinci soal masterplan transportasi.
  1. Pemkot harus menjamin keamanan di wilayah baru, tidak adanya unsur premanisme dan tidak adanya unsur pungli. Pajak hanya berasal dari Pemkot.
  1. Pedagang harus dijamin dengan subsidi, ini artinya bila ternyata di tempat yang baru tidak laku, pemkot harus memberikan subsidi agar pedagang bisa bernafas sejenak dan menentukan langkah bisnis selanjutnya.
  1. Untuk menghindari permainan spekulasi dan rasa keadilan diantara pedagang, PKL harus direlokasi secara bersamaan.
  1. Pemkot membangun citra yang positif ke tengah masyarakat, artinya membangun sosialisasi dan pengenalan-pengenalan sehingga masyarakat mau berbelanja kesana.

Enam poin itu merupakan kesepakatan yang alot, kemudian Jokowi melakukan pendekatan kultural juga ke warga, akhirnya baik warga dan pedagang sama-sama dengan rasa kekeluargaan menyambut kehendak baik pemerintahan kota, mereka bahkan menggagas agar perpindahan itu dilakukan dengan ‘Kegembiraan’, dan kegembiraan itu dilakukan dengan cara Solo yaitu Kirab.

13369223342022277686

Disinilah kemudian Jokowi mengenalkan pada kita, memberi pelajaran pada kita, bagaimana kemudian cara-cara kultural bisa dijadikan alternatif dalam melakukan penataan kota.

Pada soal pendekatan ini, yang dilakukan Jokowi dan memberikan kesadaran bersama adalah : “Jangan Membunuh Sejarah Kota, dengarkan masyarakatmu dan Lakukan diskusi terus menerus”.

13369224552008439441

Lalu bagaimana kemudian pikiran-pikiran Jokowi berkembang menjadi ekonomi politik berbasis ekonomi kerakyatan Pro UUD 1945 pasal 33. Nantikan tulisan saya selanjutnya.

 

(Bersambung…..)

 

Anton DH Nugrahanto.

sumber http://politik.kompasiana.com

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Mei 14, 2012, in copy paste 14 may 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: