Mengharap Jokowi di DKI

Mencermati perkembangan politik menjelang Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta yang cenderung meningkatkan suhu politik, rupanya saya harus ‘menarik kembali’ pendapat saya bahwa Pak Jokowi tak perlu ke DKI. Ia harus hadir mewarnai DKI dengan contoh-contoh yang manusiawi. Terus terang, saya gerah dengan pendapat sejumlah teman dan kenalan, yang saya tahu betul dulu memuji-muji (dan mengakrabi) Pak Jokowi, kini ikut-ikutan ‘menyerang’ hanya lantaran beda calon yang didukung.

Ada arsitek, seniman/budayawan, akademisi dan kaum terpelajar yang sungguh-sungguh saya kenali dan ketahui kedekatan dan respeknya kepada Pak Jokowi. Hanya karena dukungan dalam Pemilukada, maka apresiasi yang dulu ditunjukkan dan disampaikannya di forum-forum tepercaya dan bergengsi, termasuk pernyataan di media massa, hangus begitu saja.

Ada inkonsistensi sikap yang ditunjukkan secara terang-terangan. Satu-dua teman/kenalan yang dulu tidak suka dengan seorang  tokoh, kini ‘akrab’ untuk sebuah kepentingan. Satu teman yangg dulu memuji, kini mencaci maki Jokowi, nyaris tiada henti.

Ini memang pandangan subyektif saya terhadap Jokowi. Ketika saya menunjukkan ketidaksetujuan beliau maju Pilkada DKI, tak lebih karena didorong pesimisme saya terhadap kecukupan energi beliau menghadapi makhluk-makhluk buas pemburu proyek dan kekuasaan ekonomi di ibukota. Saya kuatir beliau dikerjain orang-orang yang merasa kepentingannya terancam lantaran Jokowi bukan tipe orang yang doyan sogokan.

Sejujurnya, saya mengasihani Pak Jokowi ketika ‘dipaksa’ berlaga di DKI. Saya lebih menganggap beliau cocok jadi Gubernur Jawa Tengah lantaran mengenal visinya dalam mengangkat potensi lokalitas, serta moralitasnya. Ia jujur dan sederhana, tidak menggunakan aji mumpung ketika menjabat walikota yang memiliki aneka hak fasilitas dan privilese.

Menyimak ejekan dan cemoohan sebagian orang terhadap Pak Jokowi sebagai ‘orang kampung’ yang tak ngerti metropolitan, saya jadi ingat ketika dulu saya meremehkan kehadirannya sebagai pemimpin Kota Surakarta. Sepanjang pengalaman jadi jurnalis di Kota Bengawan, belum pernah sekalipun saya mendengar kiprah dan reputasi Pak Jokowi, bahkan dalam kapasitasnya sebagai eksportir meubelair ke berbagai negara.

Rupanya, saya dipermalukan oleh Tuhan. Saya salah menilai Pak Jokowi. Dalam sebuah forum perkenalannya sebagai walikota yang baru dilantik dengan jurnalis yang bertugas di Kota Solo, saya menanyakan sektor apa yang bisa dikembangkan untuk memajukan kotanya. Pak Jokowi menyebut sebagai kota perdagangan, Solo sudah beres. Industrinya juga sudah maju. Ia justru melirik potensi wisata budaya.

Tertarik dengan isu budaya, saya mengajukan kritik adanya beberapa event kultural yang dikelola asal-asalan, sehingga berpotensi membuat orang kapok datang ke Solo untuk menyaksikan aneka gelaran. Saya ingat betul, Pak Jokowi menjawab (kurang lebih) begini: “Yang sudah ada, biarkan saja, Mas. Yang penting, jangan digenjot dengan publikasi yang massif jika belum bagus. Kalau orang sampai kecewa, dampaknya akan panjang, dan sulit kita membangun kembali kepercayaan orang.

Saya sedang memerintahkan Dinas Pariwisata untuk melakukan pendataan potensi seni-budaya di Solo. Kelak, jika datanya sudah di tangan, baru kita pelajari untuk menyusun strateginya,” ujar Jokowi.

Hingga tiga tahun pertama pemerintahannya, saya mengamati perkembangan untuk membuktikan kebenaran pernyataannya. Sesekali saya tanya sudah sampai di mana hasil penelitian staf-stafnya di Dinas Pariwisata. Dan benar, memulai tahun ketiga pemerintahannya, Pak Jokowi sudah fasih cerita data, adanya 400-an sanggar/grup seni pertunjukan, puluhan cabang seni, dan sekian lagi jumlah  perupa dan sebagainya.

Lantas, disusunlah beberapa agenda. Solo Batik Carnival, Solo International Ethnic Music Festival (SIEM), Solo International Performing Arts Festival (SIPA), dan masih banyak lagi, seperti festival keroncong, jazz, dolanan anak, dan sebagainya. Aneka pertemuan/konferensi internasional juga berlangsung di Kota Solo, termasuk World Heritage Cities Conference, dan banyak lagi. Dunia pariwisata menggeliat, industri batik kembali mencuat, hotel-hotel dan jasa transportasi pun terus terangkat. Multiplier effects-nya terasa hingga ke pedagang kakilima.

Membangkitkan industri wisata merupakan gagasan brilian. Ciri-ciri lokalitas ditonjolkan, sebagai pembeda atau strategi diferensiasi, agar orang tertarik datang. Baginya, bukan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor perhotelan, restoran dan hiburan yang diharap. Nyatanya, selama Pak Jokowi menjabat, pertumbuhannya ‘tak seberapa’ karena hanya meningkat Rp 2-3 milyar saja dari sebelumnya berkisar di angka Rp 7 milyar pertahun.

Bandingkan dengan sektor pasar tradisional dan pedagang kakilima, yang mampu menyetor pemasukan menjadi Rp 19 milyar dari kisaran Rp 7 milyar setahun, pada awal dia menjabat. Di luar semua itu, yang paling dibanggakan Pak Jokowi adalah adanya pemerataan kesejahteraan di tingkat masyarakat.

Satu hal yang tak banyak orang tahu, adalah ‘langkah diplomatik’ yang ditempuhnya, demi sebuah diferensiasi. Pak Jokowi menemui Walikota Yogyakarta (ketika itu) Herry Zudianto. Pak Jokowi membuat kesepakatan, di antaranya, pertama Solo tidak akan membuat event yang di Yogya sudah ada; kedua, Solo akan mengembangkan event-event seni pertunjukan, sebab seniman bidang itu lebih banyak dan lebih menonjol dibanding Yogyakarta yang lebih kuat di bidang senirupa.

Dua poin itu, menurut saya, gagasan orisinil seorang Jokowi. Ia sadar komunikasi, citra kota, dan potensi ekonomi dari sektor wisata yang bermanfaat bagi banyak orang.

Prinsip lain yang menurut saya kuat dipegang teguh Pak Jokowi adalah filosofi (aksara) Jawa, di mana ‘yang dipangku akan mati’. Artinya, sikap rendah hati akan membuat orang tak punya alasan tinggi hati, apalagi semena-mena. Relokasi ribuan pedagang kakilima sukses lantaran ia menjalankan prinsip itu. Di belakang pedagang kakilima, terdapat banyak preman.

Dengan disapa, diajak makan bersama, diajak membahas persoalan dan menemukan solusi bersama, maka ia sudah menempatkan orang lain pada kodrat kemanusiaannya. Eksistensi seseorang diakui secara tidak langsung, dan elegan. Dengan tidak ada kepura-puraan dalam sebuah relasi, seseorang yang garang sekalipun, akan bisa menurunkan ego atau arogansinya. Maka, dialog pun bisa berlangsung sebab semua benar-benar merasa setara.

Yang saya bayangkan kini, Pak Jokowi akan menemui pada pedagang kakilima dan pedagang di pasar-pasar tradisional di Jakarta begitu ia terpilih. Ia pun akan mengajak para preman, pentolan penguasa pasar dan jalanan, untuk duduk bersama, mencari kebaikan bersama. Dibanding kandidat-kandidat lain, saya rasa hanya Pak Jokowi yang sanggup berdialog setara dengan semua kalangan, tanpa ada beban transaksional, baik ekonomis maupun politis.

Mendengar kabar banyaknya mantan jenderal dan pengusaha kakap ingin bertemu, saya rasa merupakan kabar menggembirakan. Kalau pedagang dan kaum kecil ingin atau telah berjumpa, bagi saya, itu bukan hal istimewa. Orang Solo menyebut yang begitu dengan istilah sega jangan alias menu harian. Saya tidak kuatir pertemuan itu akan menghasilkan pertalian relasi tak elok. Toh, yang pernah saya dengar (dan saya yakini kebenarannya), Pak Jokowi enggan mengelola dana yang disebut-sebut digelontorkan oleh kakak-beradik Prabowo-Hasyim Djojohadikusumo.

Kabarnya, Pak Jokowi meminta dana dari keluarga Prabowo dialokasikan dan dikelola Partai  Gerindra untuk menjalankan mesin politiknya, demi kemenangan Jokowi yang dipasangkan dengan Basuki, pilihan Prabowo dan Gerindra. Saya bangga dan senang mendengar kabar seperti itu.

Jika orang Jakarta benar-benar ‘kapok’ dengan kepemimpinan Gubernur DKI yang sekarang, saya kira Pak Jokowi bisa menjadi salah satu alternatif terbaik. Pak Faisal Basri, saya percayai pula sebagai orang baik dan bersih. Tapi, latar belakangnya sebagai akademisi, cenderung menuntun saya menganggapnya sebagai sosok yang kuat secara teori. Dan politik, kita tahu, adalah dunia praktis (kadang pragmatis).

Soal pantas-tak pantas, mampu-tak mampu, biarlah waktu yang membuktikan. Keyakinan saya, orang Jakarta sudah mulai membutuhkan suasana baru, sebuah Jakarta Baru, yang lebih manusiawi. Silakan cari sendiri, di mana sisi
lemah Pak Jokowi selama menjabat Walikota Surakarta. Saya percaya pada hati nurani Anda semua, para pembaca.

Saya paham, sering kita tak sanggup mengutarakan secara lisan atau lewat tulisan dari kata hati. Kepentingan ekonomi, afiliasi politik, dan hal-hal subyektif, sering membutakan kita untuk membaca realita. Kebenaran bisa kita singkirkan/abaikan dari nalar, tapi nurani, saya yakin tak bisa dibohongi.

Selamat berjuang, Pak Jokowi. Semoga panjenengan menang, sehingga bisa memberi warna baru di Jakarta.

blontank poer

sumber http://politik.kompasiana.com

Iklan

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Mei 19, 2012, in copy paste 19 may 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: