Jokowi: The Next Soekarno?

“…perhatikan sungguh-sungguh ide-ide yang datang dari rakyat, yang masih terpenggal dan belum sistematis, dan coba perhatikan lagi ide-ide tersebut, pelajari bersama rakyat sehingga menjadi ide yang lebih sistematis, kemudian menyatulah dengan rakyat, ajak dan jelaskan ide-ide yang dating dari mereka itu, sehingga rakyat benar-benar paham bahwa ide-ide itu adalah milik mereka, terjemahkan ide-ide itu menjadi aksi, dan uji kebenaran tersebut melalui aksi. Kemudiaan sekali lagi perhatikan ide-ide yang dating dari rakyat, dan sekali lagi menyatulah dengan mereka”, …………begitu seterusnya diulang-ulang secara ajeg, agar ide-ide tersebut menjadi lebih benar, lebih penting dan lebih bernilai sepanjang masa.

(Mao Tsetung)

Ketika penulis menanyakan dari mana datangnya ide-ide, atau gagasan dalam membangun kota solo yang mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat tidak hanya Solo akan tetapi juga dari luar, tidak hanya masyarakat biasa akan tetapi juga pejabat publik, Jokowi menjawab ” ya dari masyarakat, dari rakyat, rakyat itu gudangnya ide”.

Lantas penulis kejar, bagaimana mekanismenya beliau menjawab ;

“ya kita harus mau terjun kemasyarakat, jangan banyak dikantor Kami ada rembug kota, 3500 orang untuk beri masukan dan kritikan akan kebijakan kota. Ada juga rembug warga di setiap kecamatan berisi 800-1000 orang. Semua bebas ngomong, tterserah sampai rampung. Pertama kali saya bikin ini 7 tahun lalu, isinya orang marah-marah. Mendengarnya sampai tak kuat. Tahun kedua, sudah mulai cair, karena mulai ada perubahan. Tinggal 30 persen yang marah-marah. Tahun ketiga sudah hilang. Isinya yang produktif untuk kota, ide-ide kreatif untuk memajukan kota, pemerintah kota tingga mengeksekutor saja”

Itu saja ?

“tidak, setiap hari jum’at pagi saya dan pak Rudi keliling kampong untuk menyapa warga, dari situ juga bisa muncul ide, atau saat ngobrol bareng dengan wartawan”

Apa yang dikatakan Jokowi mengingatkan penulis tentang Mao Tsetung, dalam menggali ide sebagaimana bunyi kutipan diatas yang diajarkan oleh senior-senior penulis dalam beberapa traning pada waktu mahasiswa. Jokowi dan Mao Tsetung memang tidak saling kenal, dan Jokowi sendiri tak pernah membaca buku tentang Mao, yang beliau baca karya-karya Bung Karno -tokoh proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia (RI). Karena itu mustahil kalau Jokowi meniru Mao Tsetung. Akan tetapi ada kesamaan bahwa tokoh besar itu akan selalu bergaul dan dekat dengan rakyat, menggali aspirasi dari sana, dan hal itu ditunjukkan oleh Jokowi dan Mao Tsetung.

Kendati hanya sebagai Walikota Solo, Jokowi telah membesar, tidak hanya untuk Solo akan tetapi telah mengalir sampai jauh, mengaliri Indonesia, bahkan dunia. Aliran itu bisa dilihat dari diundang beliau ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York untuk berpidato dalam forum Governing Council Forum (2008) guna berbagi resep mujarab dalam menyelesaikan persoalan pedagang kaki lima (PKL), tanpa kekerasan, atau keberhasilannya dalam membawa Solo ke dalam Organization of World Heritage Cities, atau membawa batik dan wayang kulit sebagi warisan budaya dunia dari Indonesia dan telah diakui oleh Unesco, maupun dinobatkanya sebagai kandidat Walikota terbaik dunia. Hal-hal diatas memperlihatkan bahwa Jokowi merupakan tokoh besar, dari Solo yang mengalir sampai jauh.

Jauh sebelum Jokowi, bangsa ini juga sempat memiliki tokoh besar yang mengalir sampai jauh yakni Soekarno, tokoh pergerakan, murid dan sekaligus patner Tjokroaminoto memang tampil cermelang dalam kancah pergerakan dunia. Soekarno melahirkan banyak gagasan juga lantaran dekat dengan rakyat. Buku yang berjudul Sarinah merupakan karya Soekarno yang digali dari seorang rakyat, perempuan desa yang berprofesi sebagai pembantu, yang kemudian namanya diabadikan dan dijadikan judul buku. Demikian pula gagasanya tentang Marhanisme, merupakan suatu ide yang datangnya dari rakyat ketika Soekarno tengah berjalan-jalan dan bergaul dan membangun dialog dengan dengan petani, Soekarno merasakan betul bagaimana beban hidup dan kehidupan petani, rakyat miskin yang mengharap sawah.

Soekarno mendapat ide dari rakyat yang kemudian dirumuskan dalam Marhanisme, sebuah ideology yang berakar dari dalam, karena waktu itu eranya perang ideology, sehingga wajar kalau Soekarno pun menggasan suatu ideology yang berakar dari rakyat, dari bangsa sendiri yaitu marhanis, bukan ideology kapitalisme maupun komunisme yang merupakan ideology impor. Demikian pula Jokowi menggali ide dari rakyat yang melahirkan Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu dengan slogan the spirit of Java.

Soekarno dan Jokowi hidup dalam era yang berbeda, namun mereka memilik kesamaan dekat dengan rakyat, menjadikan rakyat sebagai sumber ide, sumber gagasan, cara merumuskannya pun sama selalu menyapa dan tegur sapa dengan rakyat kendati outputnya beda. Hal ini terjadi lantaran tantangan dan musuh yang dihadapi berbeda, kalau era Soekarno ada perang ideologis maka hasil rumusanya pun bersifat ideologis dalam mengusir kapatilisme-kolonial, sementara era Jokowimerupakan era pasar bebas, sehingga rumusanya merupakan penguatan, pemberdayaan pada tradisi, pada rakyat agar tidak tertindas, akan tetapi mampu memberi perimbangan perubahan global yang digerakkan kapitalisme-liberal.

Roko patria Jati

sumber http://politik.kompasiana.com

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Mei 24, 2012, in copy paste 24 may 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: