2 Kelompok “Kontra” Jokowi

The Rising Star calon gubernur DKI nomer urut 3, Joko Widodo memang fenomenal. Berbagai penghargaan diraihnya sebagai walikota Solo. Yang terakhir adalah penghargaan Wahana Tata Nugraha Kencana 2011 untuk kelima kalinya secara berturut-turut. “Solo terpilih sebagai yang terbaik dalam manajemen angkutan kota dan tertib lalu lintas untuk kategori Kota Besar. Joko Widodo, Walikota Solo, hadir menerima penghargaan yang diserahkan Menteri Perhubungan E. E. Mangindaan di Ruang Mataram, Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (29/5/2012)”, demikian berita yang dimuat dalam kompas.com edisi 29 mei 2012.

Namun demikian sejumlah penghargaan yang silih berganti mendatangi Jokowi rupanya tidak membuat semua elemen masyarakat Jakarta berpaling kepadanya. Ada kelompok-kelompok yang secara kasat mata terlihat “ kontra” dengan semua hal yang berbau Jokowi. Menurut pengamatan saya, paling tidak ada 2 kelompok besar yang terlihat kontra dengan Jokowi. Siapa saja ke dua kelompok itu ? Ini dia :

Pertama, Kelompok oportunistis.

Saya ingin menjernihkan dulu terminology opurtinistis ini. Yang saya maksud kelompok ini adalah mereka-mereka yang akan kehilangan kesempatan untuk mengeruk keuntungan, jika Jokowi menjadi gubernur DKI Jakarta. Masuk dalam kelompok ini adalah PNS pemprov yang suka “main proyek” untuk kepentingan pribadi, pegusaha hitam yang sukakong kalikong dengan pejabat daerah agar memperoleh tender, preman – baik yang berjubah maupun yang tidak – yang sering melakukan pungutan liar kepada pedagang-pedagang kecil maupun toko-toko milik warga keturunan, pejabat-pejabat dinas/instansi yang selama ini sering “memangkang” uang anggran untik kepentingan pribadi dan yang sejenisnya.

Pokoknya kelompok oportunistis ini adala mereka-mereka yang “periuk nasinya” terancam terguling jika saja Jokowi benar menjadi gubernur Jakarta.

Isu yang dihembuskan kelompok ini unntuk menghadang laju Jokowi umumnya erkiar pada isu primordial bahwa Jokowi bukan asli betawi yan tidak akan mengerti tentang betawi atau Jokowi kemaruk kekuasaan sehingga “tega” meninggalkan Solo untuk hijah ke Jakarta demi kekuasaan semata.

Kedua, Kelompok fundamentalis.

Kelompok ini cenderung tinggi resistensinya kepada Jokowi lebih pada alasan ideologis. Oleh kelompok ini Jokowi dianggap liberal, apalagi ia berani berpasangan dengan Ahok yang nota bene non muslim plus cina. Isu utama yang di dengungkan oleh kelompok ini adalah Jokowi tidak cukup islami untuk didukung sebagai calon gubernur. Oleh sebab itu kampanye negatiif yang ditujukan kepada okowi oleh kelompok inimberkisar pada hal-hal yang “menyerempet” hal-hal keagamaan, seperti masalah baju kotak-kotak vs baju Koko ; masalah jokowi yang agen fremansory dsb.

Yang menarik, dari kedua kelompok “kontra” Jokowi itu sebenarnya ada perbedaan yang sangat signifikan. Kelompok pertama menolak Jokowi murni karena masalah “perut”. Mereka adalah kelompok status quo sekaligus homo economicus yang menjadikan pertimbangan ekonomi sebagai dasar pijakan dalam memilih gubernurnya. Sementra kelompok ke dua sebenarnya cukup reformis. Mereka juga ingin gubernur yang bersih, jujur, amanah dan bisa mengubah wajah Jakarta. Hanya mereka menjadikan ideologis keagamaan sebagai dasar pijakan utama dalam memilih gubernurnya. Alhasil, Jokowi yang sangat revolusioner dan pluralis sulit diterima di kalangan ini.

Apalagi , menurut pengamatan saya dengan meminjam teori Antropologi Clifford Geertz tentang agama masyarakat Jawa, saya mengkategorikan Jokowi sebagai kaum Abangan, bukan santri atau priyayi. Ini selaras dengan konstituen PDI-P yang mengusung Jokowi memang dari kalangan ini : nasionalis Abangan.

Nah, dengan reputasi seperti ini Jokowi jelas mengalami resistensi yang cukup kuat dikalangan kelompok ini.

Sebagai catatan akhir, saya ingin mengingatkan tim sukses Jokowi agar mulai membangun sinergi positif dengan kubu pasangan calon gubernur lain yang “sejalan” dengan visi dan ideology Jokowi, misalnya kubu Faisal Basri atau Alex Nurdin. Ini akan sangat bermanfaat untuk memenangkan putaran kedua . Alhamdulilah, kalau Jokowi bisa menang hanya satu putaran saja. Selain menghemat biaya, juga menghindarkan Jokowi dari deal-deal politik dengan pihak lain!

kuncoro adi

sumber

Iklan

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Mei 30, 2012, in copy paste 30 may 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: