Mencermati Pilkada DKI

Oleh: Luthfi A Mutty (Pengamat Pemerintahan/Staf Khusus Wakil Presiden RI)
MESKIPUN KPUD DKI baru akan menetapkan secara resmi hasil pilkada pada tanggal 20 Juli, tetapi dari hasil hitung cepat lembaga-lembaga survei, dapat diketahui bahwa pasangan Joko Widodo (Jokowi)–Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) memperoleh suara terbanyak (42,59 persen), melampaui perolehan suara pasangan incumbent Fauzi Bowo (Foke)–Nachrowi Ramli (Nara), yang hanya 34,32 persen (Kompas, 12/7). Hal ini jelas di luar perkiraan banyak pihak.

Kenapa? Karena hampir semua lembaga survei menempatkan pasangan Foke–Nara, unggul atas pasangan lainnya.
Bahkan, ada lembaga survei yang memprediksi, Foke–Nara akan menang satu putaran.
Berkaitan hasil perolehan suara tersebut, beberapa hal perlu dicermati. Pertama, dukungan partai besar bukan jaminan kemenangan pasangan calon.

Pasangan Foke–Nara yang didukung oleh Partai Demokrat, PAN, Hanura dan PKB, dengan total perolehan suara berdasarkan jumlah kursi di DPRD DKI adalah 43,06 persen, belum termasuk suara partai non parlemen yang ikut bergabung, ternyata harus takluk pada pasangan Jokowi–Ahok, yang didukung oleh PDIP dan Gerindra. Padahal, total perolehan suara kedua partai ini hanya 18,09 persen.

Kekalahan paling pahit dialami oleh pasangan Alex–Nono yang hanya meraup suara 4,74 persen, jauh dibawah perolehan suara partai pendukungnya, yaitu Partai Golkar, PPP dan PDS. Total suara ketiga partai ini adalah 19,04 persen.

Kedua,
 incumbent yang tidak berprestasi akan dihukum oleh rakyatnya. Prestasi Foke sebagai incumbent, oleh warga DKI dinilai biasa-biasa saja. “Tanyakan pada Ahlinya” atau “Serahkan Urusan pada Ahlinya” yang menjadi slogan kampanye Foke ketika bertarung melawan Adang Daradjatun, akhirnya jadi boomerang bagi Foke. Berbagai masalah kronis yang melanda Jakarta, seperti kemacetan dan banjir, ternyata tidak mampu teratasi ketika pemerintahan berada di tangan “ahlinya”.
Ketiga, uang memang diperlukan untuk biaya politik. Tetapi uang ternyata bukan segala-galanya. Dibandingkan dengan pasangan Foke–Nara yang balihonya terpampang di mana-mana, maka baliho dan alat praga kampanye pasangan Jokowi–Ahok, relatif jarang dijumpai. Dana kampanye yang dipunyai oleh pasangan Foke–Nara pun, pasti jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki oleh pasangan Jokowi–Ahok. Belum lagi dukungan para pengusaha, mangingat posisi Foke masih menjabat gubernur.

Keempat,
jangan under estimate terhadap rakyat. Rakyat ternyata sudah cerdas memilih dan menentukan siapa di antara para calon yang layak memimpin mereka. Rakyat tidak bisa lagi dikelabui dengan janji-janji. Slogan “tiga tahun bisa” Alex–Nono, yang oleh Tjipta Lesmana disebut tidak masuk akal dan murahan, terbukti tidak mampu meraih simpati dan dukungan rakyat.

Kelima,
jaringan birokrasi tidak dapat diandalkan untuk mendulang suara. Birokrasi DKI yang berada di bawah kendali incumbent, ternyata gagal memenangkan pasangan Foke–Nara. Kinerja pemda yang buruk, korupsi dan pungli yang marak, membuat masyarakat jadi apriori terhadap Foke yang didukung oleh birokrat DKI. Ibarat sebuah medan pertempuran, maka dukungan birokrasi justru menjadi garis pertahanan yang paling lemah bagi Foke.

Selain itu, pemberitaan yang gencar mengenai korupsi dana Bansos, menumbuhkan kesadaran rakyat bahwa incumbent cenderung menyalahgunakan kekuasaan memakai dana Bansos untuk kepentingan pemenangannya dalam pilkada.

Apapun juga, hasil pilkada untuk sementara sudah diketahui. Berbagai analisis menyimpulkan, pilkada DKI merupakan isyarat bahwa masyarakat menginginkan perubahan. Warga Jakarta sudah capek dengan berbagai persoalan yang seperti tidak ada ujungnya. Mereka semua ingin keluar dari persoalan kemiskinan, keamanan, kondisi lingkungan yang buruk, kemacetan dan banjir, serta berbagai persoalan hidup lainnya.
Putaran Kedua
Hampir dapat dipastikan bahwa putaran kedua akan diikuti oleh pasangan Jokowi–Ahok sebagai “pemenang” berhadapan dengan Foke–Nara. Untuk sementara, pasangan Jokowi–Ahok berada di atas angin, karena dua alasan. Pertama, kencangnya isu “masyarakat ingin berubah” ke arah yang lebih baik. Hal ini membuat opini bahwa oleh karena itu maka penguasa sekarang yang kurang berprestasi, harus berganti.

Kedua,
selisih suara 8,27 persen (Kompas,12/7) antara Jokowi–Ahok atas Foke–Nara, merupakan modal besar bagi Jokowi–Ahok. Selama ini, selisih suara para calon yang masuk ke putaran kedua, selalu di bawah 2 persen. Namun demikian, bukan berarti Jokowi–Ahok dapat melenggang santai menuju kemenangan.
Sebabnya adalah, pertama, jumlah golput putaran pertama yang besar (hampir 40 persen), merupakan medan laga yang harus diperebutkan oleh kedua pasang calon. Kedua, walaupun Jokowi sudah bertemu Hidayat Nur Wahid, tetapi tidak ada jaminan PKS akan merapat ke Jokowi. Sebab utamanya tentu karena faktor ideologi. Bahwa politik memang pragmatis, iya. Tetapi apa mungkin massa PKS yang islami akan mendukung calon no-Islam?
Rencananya, putaran kedua akan berlangsung 20 September 2012. Kita semua berharap agar pilkada DKI dapat berlangsung damai, jujur dan adil, sehingga menjadi contoh bagi pilkada-pilkada lainnya di tanah air. Karena itu, kedua pasang calon diharap bertarung secara jujur dengan menjunjung semangat dan etika demokrasi. Jangan jadikan pilkada menjadi ajang zero sum game. Sebaliknya, warga pun diharapkan dapat memilih dengan cerdas. Jangan memilih hanya karena berjuang (beras, baju dan uang). (*)

sumber http://www.fajar.co.id

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Juli 18, 2012, in copy paste 18 juli 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: