2 Profesor Vs Reputasi Jokowi

Perlu saya nyatakan dulu bahwa saya tidak kenal dengan Pak Jokowi, berpapasan pun belum pernah, saya hanya tahu Pak Jokowi dari media, terutama media online. Namun saya punya perasaan bahwa orang ini mempunyai sesuatu sifat yang langka dipunyai oleh kebanyakan pejabat dan birokrat Indonesia yang apabila diadakan olimpiade korupsi, pastilah birokrat Indonesia menjadi pengumpul medali terbanyak. Karena saya muak dengan korupsi, saya selalu simpati pada pejabat yang bersih dari korupsi semacam Pak Jokowi dan Pak Dahlan Iskan. Jadi sekali lagi saya bukan pasukan nasi bungkus Pak Jokowi.

Sumber image di sini

Akhir-akhir ini saya mengamati bahwa rupanya pasukan pendukung Foke tidak hanya dari golongan nasi bungkus, namun sekarang sudah menjalar ke cendekiawan yang mempunyai derajat otak professor Indonesia. Para pemirsa yang terhormat, anda saya ajak untuk membaca pendapat Profesor Ryaas Rasyid mengenai “kelemahan serius yang memprihatinkan” dari Pak Jokowi (sumber di sini) dan satu lagi pendapat Profesor Bahtiar Effendy, guru besar UIN Syarif Hidayatullah (sumber di sini) yang mempertanyakan tanggung jawab moral Jokowi-Ahok. Dua berita ini terpampang terus menerus di Rakyat Merdeka Online, seperti konten iklan, dan komen untuk para pembaca dibuat disable oleh Rakyat Merdeka Online. Sebetulnya saya merasa gateluntuk memberikan komentar langsung, tapi apa daya karena dibuat disable, jadilah unek-unek saya salurkan melalui kompasiana ini.

Selain Profesor Ryaas Rasyid, ada satu lagi pendapat dari Profesor Bahtiar Effendy ini yang berjudul “Jakarta bukan kota gagal, lantas buat apa Jokowi ke ibu kota?” (link-nyadi sini) Saya mempertanyakan apa kompetensi Profesor Bahtiar ini dalam memastikan gagal atau tidaknya sebuah kota, kalau hanya berdasarkan asumsi yang sumir dan pengamatan kasual tanpa didukung oleh data yang sahih? Apalagi latar belakang beliau sebagai seorang profesor ilmu politik, bukan profesor ilmu perkotaan. Memang sih sebagai seorang pengamat, boleh-boleh saja berpendapat toh tidak bakalan dipidana, paling juga apabila pendapatnya salah, ngeles dengan berbagai alasan -sebagaimana biasanya pengamat kita- atau malu, kalau masih punya rasa malu. Sebagai seorang yang sudah sembilan tahun belajar dan berkecimpung dalam bidang perkotaan, keberhasilan atau kegagalan sebuah kota harus dilihat dari paling tidak 20 indikator antara lain: (1) yang berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat kota: keterlibatan warga kota dalam pengambilan keputusan, keharmonisan budaya, dinamika ekonomi yang sehat, lingkungan yang terpelihara dan lestari, kesetaraan sosial, penggunaan teknologi dan inovasi, (2) yang berkaitan dengan pelayanan kota antara lain pelayanan pendidikan, energi, pelayanan keuangan dan perbankan, tempat rekreasi yang cukup, pemadam kebakaran yang responsif, pemerintahan yang bersih efektif dan efisien (good governance), pelayan kesehatan baik dan terjangkau untuk seluruh warga kota, pelayanan keamanan, pelayanan persampahan, sarana transportasi, pelayananpembuangan air limbah, dan penyediaan air bersih. Nah… dengan indikator ini pak Profesor Bahtiar Effendy, dan kita semua, boleh berkesimpulan apakah Jakarta kota gagal atau tidak.

Pendapat sama dan sebangun juga datang dari Profesor Ryaas Rasyid, namun beliau mengamati dari sisi yang berbeda. Menurut beliau membandingkan Foke dengan Jokowi, tidak seimbang alias Foke jauh lebih unggul. Menurut beliau juga keunggulan Jokowi hanyalah dari sisi memperoleh banyak pujian dan simpati. Menurut beliau juga kelemahan utama Jokowi adalah terlalu mengampangkan masalah bahwa semua hal bisa diselesaikan. Kalau menurut saya sih, seorang pemimpin harus berpikiran optimis seperti itu, toh Jokowi tidak akan bekerja sendiri, dia akan memilih orang terbaik untuk posisinya masing-masing untuk membangun kota Jakarta, bila terpilih, sedangkan fungsi dia sebagai gubernur memberi contoh dan motivasi kepada bawahannya, bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, asal ada kemauan yang kuat, bukankah sebuah pepatah kuno Inggris mengatakan “where there is a will there is a way” dan bukankah juga Samuel Smiles pernah berkata bahwa “enthusiasm … the sustaining power of all great action”. Saya kira Jokowi menyederhanakan permasalahan itu dalam rangka mengekspresikan antusiasme beliau juga untuk mendorong bawahannya untuk bekerja. Kalau seandainya pemimpinnya saja sudah menyerah, bagaimana lagi anak buahnya? Lagian, menurut saya sih Jokowi itu bukan menyederhanakan masalah, tetapi menyelesaikan masalah dengan cara sederhana dan dimulai dengan hal yang sederhana/doable, tanpa harus teori muluk-muluk yang tidak membumi yang belum tentu terpakai. Nyatanya kan produksi Profesor Ryaas Rasyid dalam menggelindingkan konsep otonomi daerah hanya menghasilkan raja-raja kecil dan mendistribusikan korupsi ke daerah. Lihat saja berapa jumlah gubernur, bupati dan walikota yang dijerat KPK. Berbeda dengan produksi Pak Jokowi yang memindahkan PKL di Banjarsari tanpa menggunakan Satpol PP, dan tidak bisa dilakukan walikota sebelumnya, dan mungkin juga oleh walikota manapun di Indonesia. Para pemirsa silakan menilai profesor itu atau Jokowi yang lebih membumi?

Saya tidak tahu apakah dua profesor ini disponsori oleh Foke untuk menyerang Jokowi?, termasuk sikap rakyatmerdeka online yang menayangkan terus menerus dengan dalih berita terpopuler namun komentarnya dibuat disable? Wallahu ‘alam, namun dari kenyataan yang ada sangat mungkin Foke meminjam tangan dua profesor ini untuk memojokkan Jokowi, termasuk pemihakan rakyatmerdeka online. Mungkin karena Profesor Ryaas Rasyid yang anggota wantimpres jadi terkooptasi oleh partai demokrat, harus mendukung Foke, sedangkan Profesor Bahtiar Effendy saya tidak tahu hubungannya.

Tambahan lagi, rakyatmerdeka online di bawah heading “Berita terpopuler”, beritanya hanya sesuatu yang memojokkan pasangan Jokowi-Ahok, mungkin kolom ini sudah dibayar oleh tetangga sebelah. Kalau begitu mulai saat ini saya akan berhenti mengunjungi rakyat merdeka online.

Kita punya filter yang jujur untuk membenarkan atau menganulir pendapat kedua profesor tadi, yaitu suara cerdas masyarakat Jakarta, biarkan masyarakat Jakarta yang menilai melalui suara mereka dalam memilih gubernur yang menjadi pilihan mereka. Pendapat kedua profesor ini akan menjadi pertaruhan reputasi mereka berhadapan dengan reputasi Jokowi. Salah seorang kompasioner pernah berpendapat bahwa tidak ada yang bisa menggantikan kecintaan masyarakat kepada Jokowi. Mari kita lihat setelah tanggal 20 September 2012.

Ingat bapak profesor, reputasi yang bapak bangun bertahun-tahun tidak ada gunanya sekali lancung keujian.

Selamat berpuasa.

sumber http://politik.kompasiana.com/

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Agustus 2, 2012, in copy paste 02 agustus 2012. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. diah respati k w

    Dukung jokowi – ahok. Mudah2an bisa menjadikan rakyat semangat kembali disaat kecewa dan apatis dgn para pejabat pemerintah. Amin.

  2. mantap artikelnya Bro!

  3. Hidup JOKOWI…. untuk DKI 1…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: