Fenomena Jokowi-Ahok dan harapan baru demokrasi Indonesia (1)

Tidak ada berita yang lebih aktual di Indonesia belakangan ini selain berita pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Meskipun tajuknya hanya ‘kepala daerah’, namun gaungnya berhasil memikat seluruh masyarakat Indonesia di seluruh pelosok tanah air, bahkan sampai pada masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Memang bisa dipahami bahwa pilkada DKI seperti halnya pada periode-periode sebelumnya pun, bukanlah pilkada biasa. Tentunya karena DKI adalah ibukota Negara dan karena itulah semua warga Negara Indonesia yang juga ikut merasa memiliki DKI secara sukarela memberikan perhatiannya pada calon pemimpin ibukota negara kita.

Meskipun demikian ada yang tidak biasa pada pemilihan gubernur Jakarta kali ini. Ketidakbiasaan yang berhasil membuat banyak orang di negeri ini rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk bisa berpartisipasi secara langsung dalam pilkada DKI kali ini. Ketidakbiasaan yang berhasil menyatukan masyarakat dari berbagai daerah dan lapisan baik lapisan ekonomi, pendidikan, suku maupun agama untuk mewujudkan cita-cita yang mereka impikan bersama-sama.

Ketidakbiasaan ini mungkin belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perjalanan demokrasi bangsa ini, dan ketidakbiasaan ini bisa jadi akan menjadi titik balik kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang. Ketidakbiasaan ini, dipicu oleh tampilnya calon gubernur-wakil gubernur DKI 2012 bernama Jokowi-Ahok.

3-5 tahun yang lalu mungkin tidak ada yang menyangka bahwa akan ada masa dimana masyarakat Indonesia kembali antusias menyambut satu even politik seperti pilkada. Kita semua tahu bahwa masyarakat sudah lelah dan hampir-hampir kehilangan asa pada kehidupan demokrasi negeri ini. Betapa banyak pemilu dan pilkada pasca reformasi kita laksanakan, berapa besar biaya dan tenaga yang sudah kita habiskan, namun hasilnya mendekati nihil. Kesejahteraan masyarakat yang idealnya menjadi tujuan demokrasi masih jauh panggang dari api. Kesehatan dan pendidikan tetap jadi barang mahal tak terjangkau sebagian masyarakat, dan korupsi yang katanya musuh utama bangsa ini justru terus tumbuh bak cendawan di musim hujan. Masyarakat sudah teramat kecewa pada politik.

Namun ajaib, apa yang terjadi di masa lalu kini bisa berubah secara cepat dan terlihat jelas dengan kasat mata. Dalam bahasa guyon remaja sekarang dikatakan, semua berubah ketika negara api menyerang. Yang terjadi saat ini memang mirip dengan guyon tersebut, tapi tentu subjeknya dalam hal ini bukan negara api melainkan Jokowi-Ahok yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Jokowi-Ahok, seperti yang sudah diketahui banyak orang, adalah dua dari sedikit pemimpin-pemimpin daerah yang dikenal karena keberhasilan mereka dalam membangun daerahnya. Ketika memimpin Solo, Jokowi berhasil membangun ekonomi rakyat kecil dengan melakukan revitalisasi fungsi pasar tradisional. Jokowi juga berhasil memperbaiki sistem birokrasi dan sukses menyediakan pendidikan dan fasilitas kesehatan yg terjangkau bahkan bagi rakyatnya yang termiskin sekalipun. Hasilnya Jokowi terpilih untuk kedua kalinya sebagai walikota dengan perolehan suara lebih dari 90%. Bukti bahwa tokoh ini sangat dicintai rakyatnya. Hal serupa berlaku bagi Ahok. Meskipun belum genap 2 tahun memimpin Belitung Timur, ia juga telah berhasil mewujudkan program-program kesehatan, pendidikan dan pelayanan publik bagi masyarakat yang dipimpinnya. Atas keberhasilannya tersebut majalah Tempo menobatkan Ahok sebagai salah satu tokoh perubahan Indonesia.

Jejak keberhasilan mereka inilah yang kemudian bagi masyarakat Jakarta menjadi seperti mata air di gurun pasir ketika mereka maju menjadi calon gubernur dan gubernur DKI kali ini. Masyarakat Jakarta yang dulu seperti sudah pada titik terendah kepasrahan dengan keadaan Jakarta yang semrawut dan tak terurus, kini seperti berani berharap dan bermimpi kembali untuk bisa melihat masa depan yang lebih baik bagi kota mereka.

Fenomena tumbuhnya harapan baru masyarakat Jakarta ini bagi saya adalah hal yang mengagumkan tapi sekaligus mengejutkan. Mengejutkan karena dalam semalam, sikap banyak masyarakat Jakarta yang tadinya pesimis pada politik dan memandang apatis produk-produknya bisa sekejap berbalik menjadi tidak hanya memberikan perhatian pada berita politik dan ikut mencoblos, tapi juga ikut serta secara langsung maupun tidak langsung pada kampanye untuk mendukung Jokowi-Ahok.

Banyak yang kemudian dari mereka yang secara sukarela menjadi relawan resmi yang bekerja siang malam mulai dari pusat kota hingga pelosok kampung-kampung Jakarta.Banyak diantara mereka berasal dari kalangan profesional berbagai bidang seperti hukum, politik, bisnis, media, dll. Selain relawan resmi, lebih banyak lagi relawan tak resmi yang bergerak di lingkungan terkecil mereka seperti keluarga atau teman maupun melalui dunia maya. Meskipun bukan relawan resmi, tapi peran mereka sangat besar dalam mendukung kampanye Jokowi-Ahok. Bahkan pada dalam pandangan saya, merekalah sebenarnya ujung tombak dari gerakan kampanye Jokowi-Ahok.

Mereka rela menyokong biaya kampanye, baik dengan menyumbang uang secara langsung maupun dengan membeli kemeja kotak-kotak yang merupakan salah satu cara tim kampanye Jokowi-Ahok mengumpulkan dana. Mereka yang menyumbang dan membeli kemeja ini bukan hanya mereka yang berdomisili di Jakarta saja, namun juga mereka yang tinggal di luar Jakarta maupun di luar negeri. Dan bukan hanya orang-orang dari kalangan atas saja yang menyumbang, bahkan masyarakat ekonomi menengah bawah seperti para pedagang pasar tradisional dan tukang becak dengan sukarela menyisihkan pendapatan mereka untuk mendukung kampanye Jokowi-Ahok. Dana yang dihimpun dari masyarakat berbagai kalangan inilah yang kemudian menjadi tulang punggung operasional kampanye Jokowi-Ahok. Hal ini tentu berbeda dengan banyak kandidat lain yang mendapat dukungan dana besar baik dari partai politik maupun pengusaha besar.

Tidak hanya menyumbang dengan dana, banyak dari para relawan yang juga secara swadaya menyumbangkan pikiran dan keahlian mereka untuk membuat media-media kampanye dan menyebarkannya pada teman, keluarga, bahkan masyarakat umum. Media-media kampanye yang banyak mereka buat dalam bentuk gambar, lagu maupun video ini dengan mudah dapat kita temukan pada forum-forum online, situs youtube, situs jejaring sosial, bahkan melalui pesan-pesan Handphone/Smartphone. Tidak sedikit pula relawan yang membuat stiker, kaos, maupun VCD untuk dibagi-bagikan secara langsung kepada masyarakat dengan tujuan memperkenalkan lebih dekat pasangan Jokowi-Ahok. Media-media kampanye yang mereka buat ini diyakini menjadi salah satu alasan kenapa popularitas Jokowi-Ahok bisa begitu cepat meroket di Jakarta.

Selain dukungan pada kampanye, para relawan juga tanpa henti menangkal serangan-serangan kampanye hitam yang memojokkan Jokowi-Ahok. Serangan berupa isu-isu korupsi tak berdasar hingga isu-isu SARA yang dilakukan pihak lawan politik tanpa gentar mereka counter. Perlawanan terhadap isu-isu miring ini mereka lakukan supaya masyarakat tidak termakan kabar menyesatkan yang memojokkan Jokowi-Ahok. ‘Perang‘ antara relawan dan penyebar isu ini banyak terjadi di media-media sosial seperti Facebook dan Twitter maupun pada forum-forum online seperti pada forum Kaskus. Hingga saat ini, perlawanan relawan atas isu-isu miring tersebut dapat dikatakan berhasil. Persepsi masyarakat Jakarta akan integritas Jokowi-Ahok masih terjaga positif.

Itulah yang kini sedang terjadi di Jakarta. Satu gerakan masif rakyat yang sebenarnya dapat dikatakan terjadi secara spontan dan tidak digerakkan oleh siapa-siapa kecuali oleh kesamaan harapan yang mereka miliki. Semua berinsiatif sendiri untuk berkontribusi, berpikir dan bertindak bersama untuk melakukan apa yang mereka bisa lakukan. Tanpa pamrih, tanpa bayaran materi, kecuali hanya bayaran akan harapan Jakarta yang lebih baik setelah Jokowi-Ahok memimpin kelak.

Satu hal yang menurut saya juga penting untuk kita garis bawahi atas apa yang sekarang sedang terjadi di Jakarta ini adalah, bahwa fenomena Jokowi-Ahok ini telah berhasil menunjukkan kepada kita model demokrasi yang meskipun mungkin belum ideal namun setidaknya sudah berada pada jalur yang benar. Inilah demokrasi yang cita-citanya dimulai oleh keinginan rakyat (dari rakyat), demokrasi yang prosesnya diperjuangkan sendiri oleh rakyat (oleh rakyat), dan demokrasi yang semoga buah manisnya kelak bisa mereka rasakan sendiri (untuk rakyat).

Pada akhirnya kita patut bersyukur bahwa fenomena Jokowi-Ahok ini telah berhasil memantik lilin-lilin kecil harapan masyarakat Jakarta. Semoga lilin-lilin kecil itu bisa menyulut lilin-lilin kecil lain dari daerah-daerah lain di Indonesia, sehingga dengannya kita bisa kembali menerangi harapan kita, harapan akan demokrasi yang menyejahterakan.

 sumber http://politik.kompasiana.com

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Agustus 9, 2012, in copy paste 09 agustus 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: