Kecerdasan Foke Tak Sebagus Kumisnya, Air Mata Rhoma Pun Sia-sia

Keledai saja, kata orang bijak, tak pernah terperosok ke dalam jurang yang sama. Lha ini, sosok doktor besutan Jerman, kok tidak bisa belajar dari realitas dan pengalaman?  Sungguh, kepribadian pemimpin (Foke) yang sulit dipahami dengan logika (ilmu) kepemimpinan.

Ketika di awal proses pendaftaran cagub-cawagub Foke melontarkan sindiran ketus terhadap Alex dan Jokowi sebagai orang daerah yang mencoba mencari peruntungan di ibu kota, orang bisa menilai itu hanyalah bagian dari strategi (psi war) politik saja. Bukan ekspresi pandangan hidup (kepicikan) pribadi Foke sebagai orang Betawi.

Begitu juga ketika video ceramah Rhoma Irama yang menghebohkan dengan isu  sensitif SARA, orang masih bisa berpandangan bahwa itu tidak tepat dipertalikan dengan  sikap dan kepentingan (politik) Foke, secara langsung.  Sebab, bisa saja itu murni inisiatif Rhoma yang memang sudah sejak lama lebih suka diposisikan sebagai mubalig dengan sapaan Bang Haji, ketimbang sebutan dangduter.

Tetapi setelah menyaksikan tayangan video yang pelaku utamanya adalah Foke sendiri yang bertanya kepada korban kebakaran yang dikunjunginya dengan kalimat: “lu nyolok siapa? kalo nyolok Jokowi, mbangun di Solo aja”  maka mau tidak mau kesimpulan bahwa “Foke SARA-is”  memang ada benarnya.

Jika sindiran pada Alex dan Jokowi di awal pencalonan baru memuat “A” terakhir dari SARA, yakni  “antar golongan”, golongan daerah versus pusat; kemudian isu yang dihembuskan Rhoma memuat unsur “R” karena menyinggung ras Ahok (China) dan unsur “A” yang pertama yakni menyoal agama orang tua Jokwi dan Ahok; maka candaan (video)  Foke di tengah pengungsi korban kebakaran itu melengkapi komponen SARA dimana  “S” (suku pendatang ) dipersoalkannya.  Maka, komplit sudah bahwa Foke memang  pribadi yang  SARA-is.

Adegan menangisnya Rhoma Irama saat mengklarifikasi  isi dakwahnya di kantor Panwaslu, sebenarnya  sudah cukup untuk jadi pelajaran bagi Foke. Pelajaran bahwa betapa tidak mudahnya meluruskan sebuah pernyataan sensitif dan konyol, yang terlanjur terlontar ke public.

Berkat tangisan (actor film) Rhoma, isu SARA yang ditudingkan kepada Rhoma  (dan Foke) melalui dakwah itu sempat berbalik menguntungkan kubu Foke. Sebab, isu yang dikembangkan (plintiran) bukan lagi pertentangan antara Rhoma dengan Jokwi-Ahok, tetapi antara Islam dengan liberalis-sekuler.

Belum lagi kontroversi video Rhoma berhenti diperbincangkan, alih-alih menahan diri (terlebih di bulan puasa), Foke malah melakukan blunder konyol. Di sinilah terlihatnya bahwa sebagai pelaku politilk Foke  telah melakukan tindakan bodoh.

Mengapa bisa begitu? Apakah tindakan konyol Foke itu semata-mata karena ketidak-cerdasannya dalam berpolitik?  Mustahil rasanya seorang bergelar doctor, lulusan Jerman pula, tak mampu berpikir logis dan elegan dalam berkata-kata dan bertindak.

Lalu mengapa pernyataan sensitive berbau SARA itu bisa terlontar dari sosok orang terdidik macam Foke?

Salah satu kemungkinannya adalah karena ‘kebencian’ (SARA-is) bercokol terlalu kuat di dalam hatinya. Itu sebabnya pertanyaan dan pernyataan “lu nyolok siapa? kalo nyolok Jokowi, mbangun di Solo aja” bisa terlontar secara spontan. Spontanitas dapat terjadi karena gagasan (pamrih disertai kebencian) yang ingin dilontarkan sudah mengendap terlalu dalam di hati. Akibatnya, meluncurlah pernyataan konyol tanpa bisa dikendalikan karena sudah menjadi bagian dari alam bawah sadarnya.

Menyesalkah Foke? Meski tidak diungkapkanya, tetapi penyesalan itu  jelas ada dan sama spontannya dengan kalimat “lu nyolok siapa? kalo nyolok Jokowi, mbangun di Solo aja”. Silakan simak ulang video tersebut, lalu perhatikan bahasa rubuh Foke. Meski sempat tertawa kecut, saat ‘berseloroh’ konyol itu,  tetapi buru-buru dia mengalihkan pembicaraan.  Tetapi saat mengalihkan pembicaraan itu tampak sekali mimic mukanya berubah total.

Perubahan  mimic itu menandakan adanya ketidak nyamanan, boleh jadi karena menyadari bahwa pernyataannya salah. Tetapi apa mau dikata, lidah memang tak bertulang, ludah yang tertumpah mustahil ditelan ulang, kata-kata terlanjur terucap, maka rasa sesal pun tak ada lagi gunanya.

Di tengah realitas Jakarta, dihuni oleh bermacam orang dengan Suku, Agama, Ras danAntar golongan yang sangat  majemuk, maka sikap Foke (orang Betawi) itu sangat tidak realistis. Harus disadari bahwa, pertama, jauh sebelum bernama Jakarta, tanah Betawi sudah dihuni oleh beragam Ras (China, Arab, India) yang berdampak pada terbentuknya budaya  ‘racuk’ (China, Arab, Sunda) yang disebut budaya Betawi.

Kedua, sekarang ini jumlah penduduk pendatang di  Jakarta jauh lebih banyak ketimbang penduduk asli yang terdiri dari orang Betawi, China, Arab, India, dan Portugis. Jika pernyataan Foke dalam video  itu tidak hanya menyinggung perasaan pendatang asal Solo (atau Jawa), tetapi juga menyinggung perasaan pendatang dari daerah lain (Sumatera, Kalimanatan,  Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan/atau Papua), lalu para pendatang itu ‘mutung’, maka permintaan maaf (dari Foke) dan air mata (Rhoma sekali pun) tak kan bisa  memenangkan Foke dalam pilgub.

 sumber http://kesehatan.kompasiana.com

About Ridwan Garcia

Dalam hidupku hanya ingin melakukan yang terbaik buat diriku dan orang lain. melakukan yg terbaik itu tujuanku. Cukup banyaak juga tulisan tulisan ku di dunia maya, yg memang sengaja aku kumpulkan dalam satu website , apa yg aku tulis semoga akan bermanfaat banyak buat orang banyak dan khususnya untuk dunia maritime indonesia, aku adalah seorang pelaut. yg selalu berlayar jauh dari indonesia. karena kecintaan ku terhadap dunia maritime jika ada waktu luang aku selalu ingin menuangkan ide ide atau pengalamanku untuk membantu rekan rekan pelaut. dan ku harapkan sharing dan info yg kutulis bermanfaat buat rekan rekan pelaut indonesia. dunia maritime kita kekurangan banyak buku buku dalam terjemahan indonesia. semoga ke isengan ku ini bermanfaat buat orang banyak. salam Ridwan Garcia/ http://infokapal.wordpress.com/

Posted on Agustus 11, 2012, in copy paste 11 agustus 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: