Hati Hati “Manipulasi dlm Pilkada DKI”

semakin cepat penghitungan semakin baik, rakyat sudah gak sabar ingin segera tahu hasil final,itu yg selalu ada di pikiran masyarakat pada umumnya .untuk yang menang mari kita ucapkan selamat dan bagi yang kalah berjuanglah terus kesempatan lain masih ada. semakin berpihak pada rakyat semakin banyak pendukungnya. karena rakyatlah yang menentukan segalanya.dalam menentukan perhitungan hak suara ada kemungkinan Komisi pilkada DKI akan menggunakan sistem tabulasi elektronik dalam menghitung surat suara. Sistem tersebut dilakukan secara paralel dengan perhitungan secara manual.

“Teknologi informasi akan mendukung pengumpulan data dengan cepat dan akurat,”dengan tingkat kesalahan dalam perhitungan tabulasi elekronik dengan perhitungan manual tidak akan jauh berbeda. tetapi ini harus mewaspadai terjadinya politik uang menjelang pemungutan suara, serta manipulasi penghitungan suara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, para masing masing parpol harus mengoptimalkan kinerja saksi mereka petugas pengawas lapangan (PPL) agar dapat bekerja secara maksimal memantau jalan perhitungan suara. Kecurangan pemilu, terutama berkaitan dengan manipulasi penghitungan suara (vote-counting manipulation), marak terjadi, kasus-kasus rekayasa penghitungan beberapa dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu. Mahkamah Konstitusi juga menerima seabrek gugatan sengketa penghitungan suara pemilukada. Beberapa kasus manipulasi penghitungan dan rekapitulasi suara, dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, dinyatakan terbukti mengandung pelanggaran secara sistematis, terstruktur, dan masif.

Sengketa penghitungan suara terjadi karena peserta pemilu bekerja sama dengan penyelenggara pemilu melakukan manipulasi penghitungan suara, dari tempat pemungutan suara (TPS) hingga level lanjutan. terjadinya korupsi pemilu ini sering disebut sebagai wholesale vote-buying.di mana peserta “membeli” suara secara kulakan dari dari pihak lain agar bisa memenangkan perolehan suara.

Kerap terjadinya manipulasi penghitungan suara menunjukkan adanya permainan antara peserta pemilu dan penyelenggara pemilu. Korupsi pemilu yang demikian jelas mengubah hasil akhir dan mendustai pilihan pemilih serta mencederai integritas pemilu. suatu gambaran yg baru saja terjadi, dalam polling Calon Gubernur DKI 2012 di JakTV, dan kebetulan memang saya ikuti terus karena memang saya pasang dan masukan dalam blog saya. selama beberepa bulan saya ikuti terus perkembangan polling di JakTV dan yg membuat saya terkesima ketika saya membuka hasil perhitungan tiba tiba bisa berubah sangat cepat. sebelumnya berjalan normal.Hasil polling di jakTV kelihatannya sudah ada permainan politik, tadinya posisi para calon kandidat posisi cukup lama bertahan

1. jokowi sekitar 56,7%
2. Hidayat Nur Wahit sekita 24,3 %
3. Alek nurdin sekitar 6,2 %
4. Fauzi Bowo sekita 4,7 %
5. Faisal Basri sekitar 2,32 %
6. Hendardji Soepandji sekita 0,66%

Tidak tahu bagaimana hanya dalam hitungan jam bisa berubah draktis dan hampir tak bisa di percaya angka hitungan berubah , ini hanya anggapan yg sejenak saja sepertinya sudah ada permainan perhitungan suara vote Electronik yg enta bagaimana cara Vote tsb bisa berubah cepat. padahal sudah berapa bulan Vote itu berjalan Normal. dan sekarang posisi no 1 yg tadinya  56,7% menjadi  no . 2  hasil polling terkhir 27.96% dan no.4 dari poling hanya 4,7 % menjadi no. 1 dgn polling saat ini sekitar 46,9%. melampui polling dari kandidat lainnya dgn lompatan yg sangat septakuler, kita positip thinking saja dan tak mau berburuk sangka dan kita ucapkan selamat buat pemenang polling ts, cuma ada pertanyaan besar ? kok bisa berubah dalam hitungan jam.!!

kejadian seperti di atas tak perlu kita ambil pusing karena itu hanya hasil polling yg bisa beruba ubah dan memang karena tak ada pengawasan. dari kejadian di atas bisa jadi bahan pembelajaran bagi kita betapa penting pengawasan di Pilkada nanti, bukan hanya DKI tetapi semua proyek yg berhubungan dgn pemilu. Karena itu, tidak ada peristiwa politik tanpa manipulasi! Dalam konteks pilkada atau pemilu semua elemen bisa dimanipulasi, mulai dari data kependudukan untuk proses pengajuan daftar calon sementara pemilih, daftar calon tetap pemilih, verifikasi partai politik di KPU, seleksi berkas calon anggota legislatif, penentuan calon anggota legislatif, pemalsuan ijasah, memoles wajah dalam foto untuk diobral di pinggir jalan, politik pencitraan, iklan politik, survei popularitas partai atau politisi, bahasa kampanye, sistem pemilu, sampai pada tahap penghitungan suara. Politik tanpa manipulasi laksana mobil yang melaju tanpa sopir, kalau tidak terguling pasti susah mencapai tujuan.

Hal ini disebabkan, karena semua orang yang berpolitik esensi dan tujuannya sama yaitu “bagaimana mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan.” Dalam proses mencari, mendapatkan, mempertahankan dan memperluas kekuasaan itulah dibutuhkan “kecerdasan memanipulasi”. Tidak ada gunanya dana banyak, kemampuan menguasai informasi (memanfaatkan media massa), kemampuan membangun jaringan-jaringan ke beberapa komunitas berpengaruh dalam masyarakat, kalau tidak memiliki kecerdasan memanipulasi.
Dalam konteks politik, yang dimaksud kecerdasan memanipulasi adalah bagaimana melakukan manipulasi secara sistematis dan sangat rapi sehingga tidak bisa terdeteksi oleh orang lain (lawan politik). Kecerdasan ini sangat penting, karena dalam sistem demokrasi semua orang atau kelompok kepentingan bebas menciptakan akses untuk mencari data-data yang diinginkan. Kalau tidak cerdas memanipulasi, maka akan berbalik arah memakan aktornya.

Itulah salah satu efek demokrasi yang menempatkan kebebasan sebagai elemen utamanya. Semua orang yang terlibat dalam proses pemilu bebas menafsirkan kebebasan itu sendiri, termasuk menafsirkan kebebasan menggunakan segala macam cara untuk memanipulasi kemenangannya. Padahal yang dimaksud kebebasan dalam demokrasi adalah bebas melakukan partisipasi politik dengan tetap berpedoman pada aturan sesuai dengan konstitusi, bukan bebas memanipulasi.
di sinilah peran masyarakat dan media masa harus dioptimalkan secara proporsional agar pilkada ini bisa sukses,” media mempunyai kekuatan untuk membentuk opini publik. Pilkada harus bisa tersosialisasikan dengan baik di seluruh masyarakat. Melalui pemberitaan yang seimbang dan obyektif masyarakat akan lebih mudah mencerna makna dari pilkada.
Sukses pilkada, bukan hanya untuk mengantarkan salah satu pasangan calon. Namun juga sukses keikutsertaan masyarakat dalam memberikan hak suaranya. Partisipasi masyarakat yang tinggi menjadi salah satu indicator pilkada sukses.

“Pilkada bukan hanya kontek demokratis, tetapi juga untuk mensejahterakan masyarakat,” semoga pilkada yg akan berlangsung di DKI bisa berjalan sesuai keinginan yg bersi dan jujur dan pada akhirnya bisa memiliki pemimpin yg baik dari perolehan suara yg baik, yg bersi dan yg jujur.

wasalam

 

  1. semoga pilkada dki berjalan lancar dan terpilih pemimpin yang dapat memberi perubahan yang lebih baik..untuk warga dki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: