Pemimpin yg Amanah

Meski tidak sebagaimana pemimpin Muslim lainnya yang saat pidato kerap mengutip kitab suci meski prakteknya “biasa-biasa saja”, Jokowi dalam ibadah rutin pun seperti shalat bahkan justru lebih disiplin daripada kebanyakan politisi muslim lainya.

Jokowi: Pemimpin yang Humanis dan Berprestasi – Agar Indonesia makmur, butuh pemimpin yang amanah dan peduli pada rakyatnya.Salah satu pemimpin yang Amanah dan Peduli rakyatnya adalah jokowi.Ada pun kita bisa mendukungnya dengan mempromosikan di milis-milis dan blog yang kita miliki jika perlu membuat dan memasang spanduk agar rakyat tidak salah pilih dan didapat pemimpin yang amanah.

Jarang-jarang ada pemimpin di Indonesia yang bagus dan humanis. Oleh karena itu saya tampilkan Jokowi yang mampu memindahkan pedagang kaki lima di Solo tanpa harus menggusur mereka. Jokowi dengan cerdas mengatasi masalah dengan Win-Win Solution.

Contohnya agar mau dipindahkan, Jokowi mengajak para pedagang itu makan-makan setiap minggu. Pada acara makan ke 54, baru dia berani menyatakan bahwa dia akan memindahkan para pedagang.

Apa Jokowi mampu menjamin bahwa di tempat baru tidak akan sepi? Kata para pedagang. Jokowi tidak berani menjamin. Tapi dia mempromosikan pasar baru itu di TV Lokal Solo selama berbulan-bulan.

Para pedagang ingin toko baru mereka gratis. Namun DPRD keberatan. Jokowi mengatasinya dengan memberi gratis, tapi para pedagang membayar biaya retribusi Rp 2.600/hari di mana dalam waktu 8,5 tahun biaya Rp 9,8 milyar untuk relokasi akan kembali.

Selain itu, tidak seperti pemimpin lain yang mengeluh soal gaji atau minta naik gaji, dia tidak pernah mengambil gajinya. Usaha Mebelnya yang sudah ada sebelum jadi walikota sudah cukup untuk menghidupinya.

Saat pengelola Railbus minta tarif Rp 5.000, dia menolak dan minta agar tarif cuma Rp 3.000. Siapa yg mau naik jika tarifnya Rp 5000? Katanya.

Saat ada sekolah dasar negeri yang memungut uang masuk sampai Rp 1,5 juta, begitu dapat laporan dari orang tua murid, Jokowi langsung datang seorang diri naik motor dengan pakaian biasa ke sekolah itu. Setelah itu, tak ada lagi pungutan. Jokowi rupanya mengancam jika sampai ada pungutan, kepala sekolahnya akan diganti detik itu juga.

Jokowi juga berani menentang Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang ingin menggusur bangunan bersejarah Solo untuk dijadikan Mal. Saat Bibit marah dan memakinya sebagai bodoh, Jokowi dengan rendah hati berkata bahwa dia memang bodoh dan dia heran kenapa warga Solo memilih dia yang bodoh sebagai walikota selama 2 periode.

Sebagai pengusaha, beda dengan para bos/pimpinan lain yang suka menindas anak buahnya secara semena-mena, Jokowi memperlakukannya dengan manusiawi. seperti penuturan anak buahnya “saya pernah lama tinggal di solo; pernah mengerjakan pekerjaan kecil untuk perusahaan pak jokowi. walaupun saya jauh lebih muda, pak jokowi memperlakukan saya seperti seorang teman; saya jadi tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang walikota & juga pemilik perusahaan tersebut, sehingga merasa nyaman saat menemui beliau. demikian juga waktu mengerjakan pekerjaan kecil di salah satu dinas di pemkot surakarta, beliau sendiri mengikuti perkembangannya dengan saya memberi report langsung ke beliau. saya kira ini salah satu kontributor keberhasilan pak jokowi, beliau tidak menganggap kecil proyek apapun di lingkungan pemkot, sehingga laporan tidak hanya dari pejabat terkait yang mungkin bisa abs.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8]: 27).

Ayat ini menegaskan syariat luhur bernama amanah. Berasal dari kata amuna, ya’munu, amanatan, amanah berarti jujur dan dapat dipercaya. Berkembang menjadi kata aminah yang berarti aman tenteram. Lalu muncul derivasi lain, ‘aamanah’, artinya ‘saling percaya’.
Menjaga Amanah dalam Islam

Dari gramatikal amanah ini lahir pemahaman bahwa kejujuran akan memberi rasa aman bagi semua pihak sehingga lahir rasa saling percaya. Saat seseorang memelihara amanah sama halnya dengan menjaga harga dirinya, sekaligus sebagai satu rumpun kata dan makna dengan ‘iman’. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada iman bagi yang tidak amanah (tidak jujur dan tak bisa dipercaya), dan tidak ada dien bagi yang tidak menepati janji.” (HR Baihaqi).

Di antara indikator seseorang yang sukses dalam hidup adalah ketika dia mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Dan itu artinya ia cerdas mengelola amanah. Ia jujur dengan kata hatinya. Apa yang ada di hati ia ucapkan. Dan apa yang diucapkan, sudah ia pikirkan dan istiqamah untuk diamalkan. “Jika engkau miliki empat hal, engkau tidak akan rugi dalam urusan dunia: menjaga amanah, jujur dalam berkata, berakhlak baik, dan menjaga harga diri dalam (usaha, bekerja) mencari makan.” (HR Ahmad).

Terkait dengan kebutuhan dunia yang serbamateri, agama kita tidak mengenal konsep “sense of material belonging”, rasa memiliki dunia atau materi. Islam mendidik umatnya untuk memiliki “sense to be entrusted”. rasa diamanahi. Semua materi yang ada pada dirinya bukan sama sekali miliknya, tapi titipan dan amanah dari Allah untuk dijaga. Karena, siapa pun yang mencoba mengakui milik-Nya akan berakhir mengenaskan. Cukuplah Firaun dan Qarun menjadi pelajaran buat kita.

Menjaga amanah memang berat, bahkan mahaberat. Makhluk langit, bumi, dan gunung pernah ditawari untuk mengemban amanah-Nya, tapi semua menolaknya. Semua makhluk Allah yang notabene jauh lebih besar dari makhluk manusia ini merasa berat dan sangat khawatir kalau nanti tidak akan kuat mengembannya. (QS al-Ahzab [33]: 72). Hanya manusia, yang sok merasa sanggup dan kuat mengemban amanah-Nya. Meski tidak sedikit yang lulus dan sanggup mengemban amanah-Nya seperti para nabi dan rasul dan orang-orang saleh yang telah dipilih oleh Allah.

Lalu, bagaimana kita bisa menjaga amanah? Laa mulkiyyah, we have but nothing. Sepertinya kita punya, tapi sebenarnya tidak punya apa apa. Tugas hidup ini mengakui semua mililk-Nya, lalu menggunakannya di jalan Allah dengan rasa syukur dan rendah hati (QS Ibrahim [14]: 7).

Sesungguhnya kita mengetahui bahwa segala bentuk penyelewengan yang dilakukan akhir-akhir ini, disebabkan rendahnya komitmen untuk menjaga amanah. Padahal, menjaga amanah itu bagian penting di dalam kehidupan ini. Andai kata negara ini dikelola dengan amanah, maka kesejahteraan masyarakatnya tentu sudah jauh lebih baik dari sekarang ini.

Dalam interaksi sosial, orang sering terlibat dengan orang lain dalam berbagai bentuk transaksi antar individu atau kelompok. Ada hubungan pinjam meminjam barang, penitipan, utang piutang, penunjukan jabatan dan lain-lain. Dari urusan paling kecil terkait antara dua orang, sampai urusan sebuah organisasi dan perusahaan hingga urusan paling besar yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan bangsa. Jika interaksi itu dibangun di atas prinsip dan transaksi yang benar maka selamatlah individu, kelompok masyarakat, perusahaan dan negara tersebut. Namun jika tidak, kehancuran, keretakan hubungan akan mengancam hubungan sosial.

Ajaran amanah dalam Islam terkait dalam dua dimensi hubungan. Dimensi hubungannya sebagai individu dengan sang Khaliq dan dimensi social terkait dengan orang lain. Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa hidup ini adalah amanah, karunia kesehatan adalah amanah, anak, istri dan semua beban di pundak kita adalah amanah yang haknya harus ditunaikan sebaik-baiknya. Semua itu adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah itu kepadamu, dan jangan kau khianati orang yang pernah mengkhianatimu.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Ahlus Sunan). Artinya, jangan bermuamalah dengan orang yang berkhianat itu sebagaimana dia bermuamalah denganmu, dan jangan membalas perbuatan khianatnya dengan perbuatan khianatmu. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/400) (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 240).

Hadits ini umum, meliputi amanah-amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang berupa hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, kaffarah, nadzar, dan yang lainnya, yang dia diberi beban untuk menunaikannya dan tidak perlu dilihat oleh hambahamba yang lain, maupun amanah berupa hak-hak hamba yang harus ditunaikan oleh sebagian mereka pada sebagian yang lain, seperti barang titipan dan yang lainnya yang diamanahkan oleh orang lain tanpa pengawasan secara terang-terangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menunaikan itu semua. Siapa yang tidak melaksanakannya di dunia ini, akan diberikan hukuman di akhirat nanti.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bahkan nilai seseorang itu ditentukan oleh tingkat amanah seseorang. Semakin tinggi tingkat amanahnya, maka nilai dirinya di hadapan Allah. Sebaliknya semakin rendah amanah seseorang maka ia tidak bernilai di mata Allah dan dalam Islam. Prinsip ini diterapkan dalam seluruh aturan syariat Islam. Ketika menjelaskan kenapa seseorang harus dipotong tangannya hanya karena mencuri 4 dirham, seorang ulama menjelaskan rahasia syariat itu dengan ucapan hikmah: “Jika tangan itu amanah maka ia mahal dan jika berkhianat maka ia hina (tidak berharga)” Artinya tangan yang tidak amanah hanya dinilai dengan 4 dirham atau senilai 200 ribu. Sebaliknya jika jari kelingking yang dipotong orang tanpa alasan yang benar, maka diyatnya (denda) adalah 100 ekor unta.

Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – rahimahullahu – mengatakan, “Menunaikan amanah termasuk tanda keimanan seseorang. Karena itu, jika kau dapati seseorang memiliki sifat amanah dalam segala sesuatu yang diamanahkan kepadanya, menunaikannya sesempurna mungkin, ketahuilah bahwa dia seorang yang kuat imannya. Dan jika kau dapati seseorang bersifat khianat, ketahuilah bahwa dia lemah imannya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/731).

Amanah yang dibebankan Allah kepada hambanya itu bermacam-macam. Di sini amanah sinonim dengan kewajiban dan beban seorang pribadi. Secara umum amanah itu dibagi menjadi dua; amanah individu dan social. Amanah bersifat individu misalnya amanah fitrah. Dimana Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Tugas manusia adalah menjaga dan melestarikan fitrahnya agar senantiasa selaras dengan syariat Allah dan waspada terhadap dorongan hawa nafsu agar tidak menyimpang. (Al-A’raf: 172). Amanah individu lainnya, adalah amanah taklif syar’i, dimana setiap hamba yang sudah memenuhi syarat tertentu dibebankan menunaikan kewajiban syariat Allah.

Selain itu amanah individu ada amanah tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama). Di satu sisi ini bertujuan menjaga agama itu sendiri dari campur tangan manusia. Di sisi lain ia sebagai rujukan manusia dalam urusan agama. “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122).

Sementara amanah bersifat sosial adalah amanah dakwah, dimana setiap Muslim berkewajiban menyampaikan Islam kepada masyarakat. Tujuannya adalah membangun masyarat Muslim sesuai dengan aturan Allah. Sehingga ia mampu menunaikan amanah lebih besar yakni amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. Dalam segala aspek kehidupannya.

Menyerahkan Urusan Kepada Yang Tidak Amanah

Menunaikan amanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung tidak mampu mengembannya. “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” QS. Al Ahzab: 72.

Manusia diberi beban amanah karena ia memiliki kemampuan berbeda dengan bendabenda padat. Manusia memiliki hati dan akal pikiran, keimanan, perasaan kasih sayang, empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah.

Amanah itu menentukan nasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan tanggung jawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disiasiakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyianyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

Namun demikian amanah itu memiliki tingakatan dan kadar berat ringannya. Beratnya amanah dipengaruhi oleh faktor kapabilitas dan ruang lingkup dan cakupan penunaiannya. Semakin tinggi kapabilitas seseorang, maka ia amanahnya semakin berat. Semakin tinggi jabatan seseorang dan semakin luas ruang lingkup tugasnya maka semakin berat pula amanahnya. Di sini bisa katakan bahwa amanah kepemimpinan adalah paling berat. Tak heran bila ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan amanah seperti di atas lebih ditujukan kepada para pemimpin, pejabat publik, dan penegak hukum. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap masalah yang satu ini.

Karenanya, para ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan dan politik Islam rata-rata memiliki buku khusus menguraikan hal ini. Ibnu Taimiyah misalnya memiliki buku “Al-Ahkam as-Sulthaniyah” (hukumhukum terkait kekuasaan). Di dalamnya Ibnu Taimiyah menguraikan urgensi kepemimpinan: ”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.

Terkait hal yang sama Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat, Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.

Inilah yang menjadi alasan kenapa pemimpin itu memiliki amanah lebih berat di banding lainnya. Semakin tinggi cakupan kepemimpinannya semakin berat amanahnya. Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Sayangnya di negeri ini amanah kepemimpinan dan jabatan diperebutkan secara massif. Tokoh dan pemimpin berlomba-lomba memperebutkan amanah itu. Masyarakat tidak memiliki jalan lain kecuali harus memilih mereka. Namun sebagai muslim tetap harus berprasangka baik kepada mereka bahwa itu dalam rangka kompetisi dalam kebaikan. Tugas kita adalah mengenal dan memiliki informasi watak, track record, moral, visi misi calon-calon pemimpin bangsa itu. Apakah watak dan moralnya diharapkan mampu mengemban amanah atau berpotensi menyimpang. Apakah visi dan misinya ingin menegakkan syariat Allah di bumi ini sehingga menjadi negeri makmur gemah ripah loh jinawi yang diberkahi Allah? Ataukah justru mempersempit ruang penerapan syariat Islam di segala bidang?

– Wallahu a’lam bishshowab –

Itu adalah kutipan yg aku ambil di beberapa artikel Salam persahabatan buat pengujung blogku. mencintai eseorang bukan karena dia peimimpin atau kekayaanya..tapi yg kita cintai adalah prilaku yg baik yg bisa menjadi suri tauladan buat orang banyak, aku di lahirkan di jakarta. aku tidak bisa menggunakan hak pilihku, karena tugas yg sedang ku emban, tapi demi jakarta tercinta ku luangkan waktu dari jauh di sebrang laut agar jakarta bisa mempunyai pemimipin yg baik jujur, bersi dan amanah. salam dari ku Ridwan Wasalam

  1. sy belajar banyak dari kutipan2 anda. salam kenal sri salasam

  2. Semoga Jokowi tetap amanah dan tidak gentar dengan ujian sebagai pemimpin. Berkaca dari filosofi cara kerja tukang parkir yang tidak pernah meminta orang yang berkendara untuk parkir di tempatnya karena setiap orang bebas memilih ‘parkiran’ mana yang layak untuk mereka titipkan amanah…dan amanah bukan benda yang bisa diminta atau sedekah bagi orang yang mengemis. 🙂 InsyaAllah dengan pengalamannya di lapangan bersama PKL, tukang parkir, dan wong cilik lainnya beliau selalu istiqomah. Aamiiiiin.

  3. Waduh gw ada tugas analisa kepemimpinan jokowi
    ambil dlu ah, thx gan

  4. bambang warsito

    KUTIPAN DAN TULISAN ANDA SANGAT INSPIRATIVE, SEMOGA BISA DIBAGIKAN KEPADA KAWAN-KAWAN PASUKAN PENDUKUNG JOKOWI..AGAR DAPAT BEROPINI SECARA POSITIF..SELAMAT BERJUANG DEMI PERUBAHAN MORAL BANGSA INI YANG SUDAH TERBELENGGU OLEH MATERIIL DAN KEPENTINGAN SESAAT…MARI KITA KAWAL JOKOWI MENJADI PRESIDEN RI ke 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: